Posted by: bumiridho | October 22, 2009

Demonstrasi*

Cukilan 1 dari buku Mohamad Sobary

Membaca buku yang keluar tahun 1994 rasanya gak jauh berbeda dengan membaca buku zaman sekarang, aromanya masih sama dan semangatnya masih sama entah zaman yang sulit berubah atau kita yang masih sekadar berwacana atau seperti banyak orang bilang sejarah itu berulang.

Ketika saya berdiskusi dengan saudara Oka tentang Demo atau tepatnya Mas Oka ini sendiri yang biasanya memulai diskusi, maka saya yang notabene terpengaruh pola pendidikan (baca tarbiyah) nonpolitik memang biasa mengecewakan teman-teman saya dengan memilih tidak berdemo walaupun hujjah saya tidak semantap Mas Oka.

Membaca artikel yang ditulis Pak Sobary soal demonstrasi membuat saya cukup merasa aneh dan geli, walaupun secara subjektif saya menilai beliau segolongan dengan Cak Nur (Nurcholish Majid) dan Gus Dur dalam memandang agama khususnya Islam. Saya merasa tulisan ini ada baiknya buat di publish dan menjadi bahan dialektika bagi sebagian kita.
Demonstrasi

Demo itu bagian dari kemegahan anak muda sekarang. Ia, bagi sementara orang, adalah sekaligus ukuran keberanian. Anak muda karenanya selalu sukar menyembunyikan kesan gagah tiap kali kepada orang lain berkata: “Tadi saya ikut demo”.

Lebih gagah lagi bila pekerjaan berdemo itu diberi embel-embel seperti pernah dilakukan seorang pemuda kita: “Demi tauhid saya berani berdemo ke istana”

Demi tauhid. Untunglah kita punya kata demo dan tauhid sekaligus. Dan untunglah kita masih bisa menggunakan ukuran tauhid di pentas politik.

Memang belum jelas buat siapa keuntungan bakal dipetik bila kita bicara tauhid di tengah, atau sesudah suatu acara demo berlangsung. Tapi bila tauhid pegangan kita, setidaknya lalu terbayang dalam benak bahwa karena tauhid itu maka kita berbuat apa saja, termasuk berdemo, bukan lantaran hendak pamer keberanian. Juga bukan karena tindakan berani itu lantas mengundang keplok dan decak kekaguman khalayak ramai.

Tauhid, sekalipun sekadar sebagai simbol, tidak bisa dipakai untuk hal-hal seperti itu. Tauhid mengajari bagaimana kita menunduk. Apalagi bila tauhid bukan sekadar simbol, melainkan sudah menyatu dalam darah daging dan jiwa kita, maka segenap tindakan, apa pun wujudnya, tentu kita lakukan demi keikhlasan.

Hanya demi keikhlasan, sebab dibawah panji-panji tauhid tiap pekerjaan menjadi ibadah. Dan ibadah, dimanapun, bukan perkara berani atau takut, bukan juga soal gagah, atau heroik. Ibadah itu perkara biasa, ia anti riuh rendah, emoh kemegahan, dan cuma perlu satu hal: Ikhlas tadi.

Kita bahkan diminta membatasi diri dari berbuat sesuatu bila kita tahu perbuatan itu akan menipu kita ke jurusan rasa bangga dan bukan mengajak menunduk dan tawadhu. Begitu juga bila sorang anggota DPR berani membongkar sebuah kolusi yang memalukan bangsa dan negara, hingga rahasia secarik kertas bisa menggaet satu koma tiga triliun rupiah dari Bank terungkap. Bila tauhid sekali lagi, jadi pedoman, maka dalam pekerjaan itu kita pun layak berkata: “Saya tidak takut kepada siapapun selain kepada Tuhan”.

Demo bagi saya, usaha membangun dialog. Dalam dialog itu harus ditegakkan kesamaan derajat. Tak ada pihak yang lebih tinggi dan lebih berkuasa. Juga tak ada pihak yang lebih direndahkan. Dimanapun posisi kita dan usaha kita sama: menegakkan demokrasi.

Bila benar ada seribu jalan lain menuju Roma, mungkin ada pula seribu jalan menuju demokrasi. Demo, kita tahu merupakan salah satu jalan yang ada. Dan demo sering berwajah ganda.

Para pengemis yang menyergap pintu masjid setelah sahalat usai, juga berarti sebuah demo. Di situ, cuma beberapa menit setelah kita berkata bahwa agama memperhatikan nasib kaum miskin, kontan kita ditagih untuk membuktikan ucapan kita. Demo yang ini tak cuma menohok kita, melainkan juga pemerintah. Dalam pasal UUD kita, disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Dan kini gencar kita bicara pengentasan kemiskinan. para pengemis, kaum miskin yang kleleran itu, tujuannya memang bukan berdemo. Mereka mencari sandang pangan. Tapi sosok kumuh mereka, siapa bilang tak lebih galak dari demo biasa? Mengapa kita cuma diam?

Mereka itu tegas menuntut: “Mana bukti pengentasan kemiskinan? Mana bukti komitmen agamais yang menaruh perhatian pada kaum miskin dan anak yatim? Mana? Ayo, stop omongan kosong itu!”

Bapak aparat, jangan ragu, tangkaplah para pelaku demo yang ini. Beri mereka kerja, sandang dan pangan. Setelah itu saya jamin, demo tak bakal lagi ada.

———————————————————————————————-

Dicutat dengan pemotongan dari buku Moralitas Kaum Pinggiran keluaran Mizan

artikel ini dimuat di Kompas, 20 Maret 1994

Barangsiapa tidak membaca sastra, dia biadab, siapapun dia

-goethe-

Posted by: bumiridho | June 25, 2009

Islam dan Semangat Technopreneurship (Bag 1)

Hari ini Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memasuki era tatanan dunia baru bernama globalisasi, dimana tantangan terbesar negeri ini ialah rendahnya daya saing yang tercermin dari tingkat kemiskinan dan kesejahteraan yang masih sangat rendah, hal ini dapat dilihat dari HDI Indonesia yang berada pada urutan yang cukup buncit yaitu 109 dunia pada tahun 2007. Selain itu, berdasarkan data BPS pada tahun 2006 jumlah penduduk Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan ialah sebesar 39,3 juta jiwa. Hal tersebut diperparah dengan kondisi lapangan pekerjaan kita dimana jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2006 mencapai 10,28 juta jiwa dan orang yang setengah menganggur sebanyak 29,1 juta jiwa.

Kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat indonesia ialah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar didunia yang tentunya sebagian besar orang-orang yang menghuni angka-angka diatas ialah orang-orang muslim pula. Lantas sebuah pameo tak sedap pun tersebar di kalangan masyarakat kita bahkan dunia, bahwa Islam identik dengan kemiskinan, kelusuhan dan kekerasan.

Pameo tersebut tentunya tidak benar karena pada kenyataannya, Islam pernah meninggalkan jejak sejarah yang menceritakan suatu negeri dengan stabilitas ekonomi dan politik yang mumpuni dimana saat kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz saat itu tidak ada seorang pun yang termasuk dalam kategori Muzakki (penerima zakat) atau cerita mengenai kontribusi Islam di Cordoba yang melahirkan banyak ilmuan-ilmuan luar biasa yang memberikan sumbangsih besar terhadap perkembangan peradaban dunia.

Lantas bagaimana fenomena ini bisa terjadi, Indonesia dengan penduduk muslim terbesar didunia justru menjadi negeri dengan sejuta masalah. Salah satu letak terbesar permasalahan umat muslim Indonesia saat ini ialah tidak terimplemetasikannya nilai-nilai Islam dengan baik, penerapan Islam masih sebagai Islam simbolik, belum bertransformasi sebagai Islam fungsional yaitu islam by action seperti yang diperagakan oleh generasi assalafusshalih terdahulu. Sayyid Quthb dalam bukunya yang terkenal Ma’alim fi Thariq secara khusus pada bagian awal bukunya memaparkan mengenai “Generasi Qurani yang Istimewa” sebagai berikut:

Mereka (generasi pertama) membaca Al Quran bukan untuk sekadar ingin tahu dan sekadar membaca, juga bukan sekadar untuk merasakan dan menikmatinya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memperlajari Al Quran untuk sekadar menambah pengetahuan atau untuk menambah bobot ilmiah dan kepintaran dalam ilmu fiqih. Mereka mempelajari Al Quran untuk menerima perintah Allah SWT berkenaan dengan masalah pribadi mereka, masyarakat tempat mereka hidup dan kehidupan yang dijalaninya bersama jamaahnya, Mereka menerima perintah Allah SWT untuk segera diamalkan setelah mendengarnya…”(Quthb, 2001)

Al Quran tentunya tidak memberikan kepada kita secara langsung mengenai rumus Newton atau rumus relativitas Einstein, walaupun dalam Al Quran kita bisa mendapatkan fakta-fakta ilmiah luar biasa seperti pada bidang kedokteran (QS: Al Mu’minun 14-17) atau pada bidang geologi (QS: Maryam 15). Al Quran sejatinya memberikan kepada kita hal yang lebih esensial yaitu pedoman untuk menggapai kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat. Pedoman-pedoman yang terdapat dalam Al Quran meliputi pembangunan etos kerja seorang muslim, semangat berinovasi, semangat mencari ilmu, semangat memberi dan semangat kerjasama. Semangat-semangat ini merupakan semangat yang jika diimplementasikan dengan baik tentunya akan membawa kebaikan kepada kita semua.

Al Quran memberikan kepada kita kemampuan untuk menyikapi dan menyelesaikan masalah dengan prinsip utamanya ialah ikhtiar dan tawakal. Hal ini sangat terkait erat dengan konteks pembangunan manusia Indonesia dalam rangka membangun jati diri bangsa (Nation Character Building) untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan diatas khususnya permasalahan ekonomi dan daya saing bangsa. Mantan menteri BAPPENAS Kwik Kian Gie memaparkan bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 40.000.000 perusahaan di Indonesia. Jumlah perusahaan yang termasuk kategori besar sekitar 0,01% (4000) dan sisanya 99,99% ialah perusahaan kecil yang berbentuk Usaha Kecil Menengah (UKM) yang ramai kita kenal saat ini dengan istilah pasar riil atau aktivitas ekonomi kerakyatan (Indopos, 2004).

Data tersebut menunjukkan betapa rakyat kita sangat tergantung kepada aktivitas usaha kecil menengah (UKM). Kondisi ini seharusnya mengingatkan kepada kita terkait urgensi mengembangkan kegiatan UKM, karena saat ini, seiring dengan masuknya era pasar bebas dimana produk-produk impor dapat membanjiri pasar dalam negeri kita dengan mudahnya. Timbul suatu pertanyaan besar, bisakah produk dalam negeri kita bersaing.

Solusi untuk meningkatkan daya saing ialah dengan sentuhan teknologi yang diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah atau minimalnya dapat membuat produk kita bisa bersaing dengan produk luar negeri. Saat ini trend ekonomi dunia mengarah kepada ekonomi berbasis keilmuan (knowledge based economy) dimana saat ini keilmuan atau pengetahuan sama pentingnya dengan modal fisik, modal keuangan dan sumber daya alam dalam pertumbuhan ekonomi. Sehingga pengembangan dan aplikasi teknologi dalam pengembangan dunia usaha yang kita kenal sebagai technopreneursip khususnya technopreneursip yang dilandasi dengan nilai-nilai islam untuk membentuk entrepreneur muslim yang memiliki kepribadian yang baik, tujuan hidup yang benar dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat menjadi sebuah tantangan untuk dikembangkan pada masyarakat kita.

Posted by: bumiridho | March 1, 2009

Undangan Forum Hijau

undangan-meeting-forum-hijau

LAMPIRAN 1

Bagi anda (individu/komunitas/lembaga) yang ingin berbagi ide maupun program tentang pengolahan persampahan Bandung, berikut teknisnya (terinspirasi pecha-kucha night, http://www.pecha-kucha.org/).

1. Tiap perwakilan dibatasi hanya boleh mempresentasikan ide maupun programnya 10 slide dengan waktu per slide hanya 20 detik.
2. Bila waktu yang disediakan dirasa kurang, maka dianjurkan untuk memperjelas ide maupun programnya dengan membagi modul/handout pada peserta.
3. Tiap perwakilan yang ingin mempresentasikan ide + programnya diharap menghubungi Ibu Diah di 08164212942 (untuk mempermudah pembagian jadwal presentasi dan estimasi waktu), Presentasi dibatasi untuk 10 orang (siapa cepat dia dapat, yang tidak mendapatkan presentasi diperbolehkan untuk berbagi ide + program dengan menyebarkan handoutnya).
4. Sangat diharapkan komunitas yang diundang memberikan opini + ide + programnya agar manfaat pertemuan FH lebih terasa manfaatnya.

LAMPIRAN 2

Rangkaian Acara
15:30 - 16:00	Registrasi + Pembukaan
16:00 - 16:40 	Start Berbagi Ide Tentang Pengelolaan Persampahan
16:40 - 17:15 	Sesi tanya jawab
17:15 - 18:00 	Sharing Pemilahan dan Pengolahan Skala Rumah Tangga
18:00 - 18:20 	Break Sholat Maghrib
18:20 - selesai	Diskusi informal plus Mamiri
(start on time)

LAMPIRAN 3

KESIMPULAN FORUM HIJAU terakhir (tanggal 12 Februari 2009)
• Membentuk Task Force untuk keberlanjutan kegiatan Forum Hijau yang saat ini Fokus pada Persampahan Bandung.
• Tindak Lanjut dan Sinergitas antara seluruh pihak yang telah hadir pada Forum Hijau diskusi Penanggulangan Sampah.
• Berbagi peran dan menciptakan trend sehingga akan melahirkan suatu budaya baru yaitu : GREEN LIFESTYLE.
• Merubah doktrin BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA menjadi SIMPAN SAMPAH PADA TEMPATNYA.
• Meninggalkan pola kumpul - angkut – buang dan menggati menjadi SIMPAN – PILAH – OLAH.
• Pesan untuk pemerintah adalah : pemerintah harus mau berinvestasi terhadap pembentukan infrastruktur yang dibutuhkan dalam penegakan hukum, sehingga dengan berjalannya waktu akan menumbuhkan kesadaran pada seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan.
• Sano dari GREENERATION INDONESIA akan bertindak sebagai Koordinator Task Force.
• Program berikutnya untuk Forum Hijau akan dilaksanakan kurang lebih dalam dua minggu sekali.

Lampiran 4

Yang diundang:
1. AIESEC
2. ROTARY
3. STP (dosen 1 + organisasi mahasiswa 1)
4. Climate change center
5. GREENERZ MAGZ
6. SUSTAINABLE BANDUNG
7. GANESHA HIJAU (KM 1 - TEKIM 1 - BIO 1 - HMTL 1 - UGREEN 1 - PLANO 1)
8. RoE
9. BIKE 2 WORK
10. YPBB
11. BPLHD
12. BATAGOR
13. DESIGNER SYNDICATE
14. AIR PHOTOGRAPHY
15. BICONS
(harap melakukan konfirmasi kehadiran, sms ke Ibu Diah 08164212942)
Posted by: bumiridho | February 3, 2009

Menuju Senja (3 Mei 2007)

Sore ini di Salman

akhirnya kembali

kembali duduk rapat, syuro, apapun namanya

diawali dengan siraman ayat maha dari surat Al A’raf 52-57

Isinya doa

pentingnya doa dan bagaimana berdoa

Hari ini kembali membicarakan

cita-cita mulia

menyebarkan keindahan Islam

mengajak kepada satu Tuhan

Ya Allah luruskanlah niat kami

dan berilah hikmah kepada kami

agar ketika Senja

setidaknya kami masih bisa berharap

Bahwa iman dan Islam masih

bersemayam di hati kami

dan surga serta melihat wajah-Mu

menjadi tujuan utama kami

amin…

Bandung, 3 Mei 2007

Posted by: bumiridho | December 23, 2008

Pendidikan dan Secangkir Kopi

Catatan Kronik

Telah 5 minggu kronik diadakan dan berikut catatan saya tentang kronik tentunya dengan gaya tulisan subyektif saya yang biasa kawan-kawan temui. Catatan ini saya tambah dengan bumbu-bumbu BHP yang ramai dibicarakan saat ini.

Pendidikan dan Secangkir Kopi

Jarang mungkin kita temui saat ini khususnya di dunia mahasiswa dari secangkir kopi dapat timbul gagasan yang dapat membawa kebaikan masyarakat, tampaknya karena saat ini secangkir kopi lebih nikmat jika diminum di Starbucks dibandingkan di sisi jalan dimana kita bias melihat sesungguhnya realita masyarakat secara langsung, di warung sisi jalan dari jarak 10 meter kita sudah mendengar suara penuh harap dari pengamen atau anak-anak jalanan, kemudian di warung sisi jalan kita bisa mendengar para pedagang ngobrol soal mahalnya harga beras harga cabe dan sebagainya berbeda dengan di starbucks dimana yang kita lihat adalah kondisi ideal yang tidak sebagian masyarakat kita mengalaminya.

Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa para Anggota DPR kurang mendengar aspirasi masyarakat, karena tempat mereka minum kopi beda dengan sebagian besar masyarakat kita.

Berbicara soal pendidikan, di kronik beserta kawan-kawan dengan dipandu Jaka EL04, kami melakukan badai otak soal masalah pendidikan di Indonesia tuh apa aja, akhirnya kami merumuskan bahwa masalah pendidikan di Indonesia yang banyak itu, dapat dikelompokkan menjadi tiga hal, pertama masalah filosofis, kedua masalah kualitas (seperti masalah kurikulum dan guru) dan ketiga masalah infrastruktur (seperti lingkungan, aksesbilitas, media dan sarana-prasarana).

Pada tulisan ini saya coba untuk membahas bahasan pertama kami dalam kronik soal filosofi pendidikan.

Pendidikan yang kehilangan makna

Tak bisa dipungkiri pendidikan tak bisa lepas dari nilai tempat dimana pendidikan itu diselenggarakan atau sistem dan struktur sosial yang ada saat dimana penyelenggaraan pendidikan itu terjadi sehingga pendidikan sama sekali sulit untuk menjadi proses yang tanpa nilai, murni tanpa tujuan, semata-mata menghidupkan hasrat rasa ingin tahu saja atau yang lebih parah hanya proses alih informasi saja.

Sehingga realita yang terjadi hari ini, pendidikan sekan-akan telah di rancang untuk melanggengkan suatu kondisi tertentu seperti yang ada saat ini di Indonesia, pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan menyesuaikan dengan sistem kapitalisme yang ada, bukannya dirancang untuk mengkritisi kapitalisme itu sendiri sehingga ada kritik perbaikan terhadap sistem kapitalisme yang saat ini sedang mengusai dunia. Tentunya dengan harapan agar proses dialektis terhadap sistem yang saat ini menguasai peradaban selalu terjadi dari massa ke massa sehingga kehidupan manusia dapat menjadi lebih baik.

Oh iya, tentang BHP, jika yang dimaksud oleh pemerintah ialah reformasi birokrasi dan otonomi kampus? Maka mengapa kampus dan lembaga akademik (sekolah-sekolah) tidak diberi kebebasan untuk memilih dan merancang sistemnya sendiri? Malah dipaksakan semuanya menjadi BHP, sekali lagi hal ini cerminan bahwa saat ini pendidikan dirancang oleh penguasa untuk melanggengkan atau menyesuaikan dengan sistem kapitalis yang saat ini berkuasa bukan sebagai proses autokritik terhadap sistem kapitalis tersbut untuk menghasilkan transformasi sosial yang lebih baik.

Dalam tataran global, pendidikan yang kehilangan makna boleh dikatakan seperti uraian diatas sedangkan dalam tataran yang langsung bersentuhan dengan kita sebagai peserta didik, pendidikan yang kehilangan makna dapat dilihat dari hasil kemajuan kita hingga saat ini, kita tertinggal dalam hal inovasi dan kreativitas serta tentunya dalam perwujudan cita-cita besar.

Betapa banyak hingga saat ini kita sebagai peserta didik, melewati proses pendidikan tanpa cita-cita dan kesadaran akan peran serta dimasyarakat, pendidikan terasa hambar tanpa semangat dan idealisme. Kita lulus SD untuk masuk SMP, lulus SMP untuk masuk SMA, Lulus SMA untuk masuk PT dan lulus PT untuk bekerja, setelah itu mati. Maka beruntunglah orang yang kemudian bersentuhan dengan idealisme dimasa pendidkannya baik melalu kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain setidaknya mereka bersentuhan dengan realitas.

Jika membaca buku manusia pembelajar Andreas Harefa, kawan-kawan tampaknya bisa lebih membayangkan bagaimana pendidikan (khususnya sekolah) telah menjadi lembaga yang mengkerdilkan anak bangsa, rasa ingin tahu tidak diapresiasi apalagi di fasilitasi sehingga pendidikan tidak menghasilkan perbaikan dari ide-ide anak didik, tetapi sekali lagi, hanya menjadi transfer informasi saja.

Hal yang berbeda dapat kita dapati pada film laskar pelangi, dimana sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dengan guru yang penuh perjuangan (saat ini pun sebagian besar guru kita masih honorer dengan gaji seadanya) dan anak-anak yang penuh dengan harapan.

Kronik Pendidikan

Kronik (kajian Roetin Pendidikan dan Keilmuan) bidang pendidikan yang telah berjalan, dimana hal yang perlu dimaklumi ketika saya meilhat paradigma yang diambil oleh sebagian besar para peserta diskusi ialah paradigma pendidikan kritis, dimana pendidikan ialah memanusiakan manusia (Freiran) walaupun pada keberjalanan diskusi kami sempat mentok saat timbul pertanyaan ”Bisakah pendidikan bebas nilai?”, setelah berdiskusi panjang akhirnya kami mengambil kesimpulan bahwa pendidikan tidak bisa, tidak bebas nilai (ideologi), kemudian timbul pertanyaan berikutnya ”nilai apakah yang kita ambil?” Akhirnya kami bersepakat bahwa nilai yang akan coba kita bahas disesuaikan dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Kemudian kami merumuskan dua definisi, definisi pertama ialah hakikat pendidikan dan definisi kedua ialah tujuan pendidikan. Hakikat pendidikan secara gampang ialah segala sesuatu yang kalau tidak ada maka proses itu tidak disebut sebagai pendidikan sedangkan tujuan pendidikan adalah apa yang mau dihasilkan atau dicapai dari proses tersebut.

Terdapat lima hal dari hasil diskusi kami , yang kami simpulkan sebagai hakekat pendidikan:

  • Pendidikan ialah proses pengembangan hasrat keilmuan dalam rangka mencari kebenaran (pengembangan kesadaran kritis)
  • Pendidikan ialah proses pengembangan potensi
  • Pendidikan ialah proses dalam membimbing peserta didik untuk menemukan misi dan peran kemanusiaannya
  • Pendidikan ialah proses pewarisan nilai-nilai

Jika satu hal dari kelima hal diatas tidak ada maka kami menyimpulkan bahwa proses tersebut bukanlah proses pendidikan yang jelas merupakan kebebasan teman-teman untuk setuju atau tidak setuju dengan lima hal diatas.

Kawan-kawan, Pendidikan setidaknya terdiri dari tiga komponen:

  1. Pengajar
  2. Pelajar atau anak didik
  3. Realitas Dunia

Yang agak hilang dari pendidikan saat ini ialah komponen ketiga yaitu realitas dunia dengan membicarakan realitas dunia, tidak hanya peserta didik yang bertambah wawasannya tetapi juga pengajar pun bertambah wawasannya, karena sifat pendidikan menjadi dialogis dan mencari mana yang paling baik dengan menghargai nilai yang dianut masing-masing.

Secangkir Kopi

Kronik pendidikan memang masih punya banyak PR dan yang paling penting ialah aplikasi, mudah-mudahan hasil dari kronik pendidikan dapat menjadi tambahan yang berharga untuk aktivitas di Rumah Belajar KM ITB dan tentunya dunia pendidikan kita.

Hmm, kembali ke secangkir kopi, (terus terang saya lebih suka air putih daripada kopi J), ketika meminum kopi tentu kita ingin tahu merek kopinya apa? Manis atau enggak? Pake susu atau enggak? Kecuali yang buat si Eneng (so pasti kita minum J)

Bagaimana dengan kehidupan ini? Apakah kita hanya menerima kebijakan tanpa mempertanyakan kembali isinya apa? Di depan orang-orang yang tidak kita kenali bahkan perlu dipertanyakan kapabilitasnya di senayan sana, tampaknya kita harus berani untuk bertanya. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk kesejahteraan masyarakat, 225 juta lebih rakyat Indonesia.

Sampai ketemu di Diskusi kita selanjutnya

Seperti kata Einstein ”Imagination is more Important than Knowledge”

Posted by: bumiridho | December 23, 2008

Mereka yang mewarnai saya … (Tentang Imam Ahmad)

Tentang Imam Ahmad

Lihatlah di penjuru Baghdad

Semua berdiri di jendela memegang pena

Siap menuliskan kata-kata Ahmad

Apakah layak Ahmad selamat

Sementara semua manusia sesat ?

(Imam Ahmad dalam jeruji besi)

Kawan-kawan ketika saya mendalami warna pemikiran yang berada dikepala saya khususnya terkait dengan keislaman saya, maka kemudian saya berpikir tentang beliau, walaupun saya lebih mengenal beliau dari ceramah dan ta’lim yang saya ikuti dibandingkan dengan membaca bukunya tetapi jika menelisik buku-buku dan tokoh yang mewarnai pemikiran Islam dalam kepala saya maka saya menemukan beliau disana.

Beliau adalah orang yang luar biasa yang menjadi rujukan berbagai orang, baik yang beraktivitas dalam harakah maupun yang tetap konsisten dengan jalan salaf, sehingga dengan jelas saya bisa mengatakan bahwa beliau adalah pelita zaman.

Ya, beliau adalah pelita yang tak hanya menerangi zamannya dengan keteguhan iman dan keluasan ilmunya tetapi juga mewariskan pelita tersebut hingga saat ini dimana Hadits-hadits riwayat beliau termasuk dalam kitab hadits utama, buku-buku beliau dibaca, perkataan beliau di nukil dan perjalanan hidup beliau dijadikan kisah yang menyemangati orang-orang yang mengkuti jalan beliau.

Ya, jalan beliau adalah jalannya para nabi dan Rasul, jalannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yaitu jalan Dakwah.

Entah mengapa kata-kata Dakwah saat ini menjadi kata-kata yang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang berlabel aktivis mesjid dan menjadi tampak begitu berat didengar oleh sebagian kaum muslimin mungkin termasuk saya, padahal dakwah adalah milik kaum muslimin, dengan dakwahlah kaum muslimin secara pribadi dan secara komunal dapat membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena dakwah seharusnya tidak hanya berhenti di langgar, mesjid atau mushola dakwah seharusnya ada di ruang kelas, di laboratorium, di acara himpunan, acara Kabinet, di televisi dan tempat serta metode lainnya sesuai dengan budaya massa yang berkembang hingga saat ini dengan konten yang sama. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pun mengatakan “sampaikanlah walau hanya satu ayat”

Dakwah yang dibawa beliau adalah dakwah yang lugas bersumber pada sumber yang jelas yaitu Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salaffushalih, dan inilah kemudian yang saya coba untuk ikuti dengan segala keterbatasan yang masih ada pada diri saya.

Kisah beliau yang senantiasa diceritakan kepada saya (cerita yang umum diceritakan ketiak ustadz-ustadz membahas mengenai kisah imam ahmad) ialah mengenai keteguhan hati beliau saat dengan kepenuhan hati dan berkat bimbingan Allah beliau menolak untuk mengatakan bahwa “Al Qur’an Adalah Makhluk” sesuai dengan pemikiran yang berkembang dizaman beliau ketika khalifah saat itu sangat dipengaruhi oleh faham mu’tazilah (jaman sekarnag identik dengan kaum liberal) yang mengedepankan akal untuk memahami ajaran Islam ini, beliau dengan teguh mengatakan bahwa “Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah)” akibatnya beliau dipenjara dan dalam penjara beliau disiksa setiap hari, namun beliau tetap teguh dengan pendiriannya, karena beliau menyadari bahwa beliau adalah simpul umat dizamannya dan tiap kata-kata akan dipertanggungjawabkan serta yang paling utama ialah keselamatan Aqidah umat, beliau mencintai umat ini sebagaimana beliau ingin meneladani Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang begitu mencintai umat yang dipimpinnya.

Ketika itu sipir penjara bertanya kepada beliau, “Ya Imam, mengapa engkau tidak mengambil keringanan dari Allah?” Maka Imam Ahmad Menjawab:

Lihatlah di penjuru Baghdad, semua berdiri di jendela memegang pena, siap menuliskan kata-kata Ahmad. Apakah layak Ahmad selamat, Sementara semua manusia sesat ?

Begitulah seorang ulama, seorang pejuang seorang imam Ahmad, bagaimana surga telah begitu jelas pada benak beliau bagaimana begitu yakinnya beliau bahwa kemuliaan ada di sisi Allah Azza Wa Jalla, bukan disisi penguasa yang berkuasa di zaman beliau, padahal dengan mudahnya beliau sebagai simpul massa di zamannya bisa mendekat ke penguasa.

Ketika itu, beliau ditanya oleh seorang muridnya, karena muridnya melihat beliau jarang sekali beristirahat dan senantiasa berjuang dan berdakwah walaupun umur telah menggeorogoti tubuhnya.

Ya imam, Kapankah engkau akan beristirahat?

Imam Ahmad pun menjawab

Saya akan beristirahat ketika kaki ini telah menginjakkan kaki di surga

Subhanallah

Semoga Allah merahmati beliau …

Posted by: bumiridho | November 24, 2008

OPREK P DAN K KM ITB

oprek2

Posted by: bumiridho | September 18, 2008

Notulensi Dialekta : Dari Pabrik Robot ke Laboratorium Peradaban

Dari Pabrik Robot ke Laboratorium Peradaban

Judul diatas merupakan judul yang dibawakan oleh Jaka Arya Sakti, pembicara pertama dialekta pendidikan yang diadakan tanggal 10 september yang lalu yang saya pikir sebegai reviewer tampaknya cukup mewakili nuansa diskusi sore hari itu. Berikut review singkat dari diskusi tersebut. Dimulai dari Jaka, Army kemudian Lizzy.

Mencengangkan memang ketika ada suata negara di kepulauan Asia Pasifik yang bernama Tonga yang bahkan para peserta Dialekta saat itupun kayaknya baru denger ada kerajaan tersebut ternyata memiliki nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih tinggi dari negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa negeri ini masih memiliki tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan tingkat kesehatan yang rendah, kemudian setelah Jaka membuka dengan tambahan realita-realita lainnya dan kemudian mengerucutkan di ranah pendidikan. Beliau memulai dengan visi tentang pendidikan yang tercantum dalam UU Sisdiknas tahun 2003 dimana secara perundang-undangan telah tercantum tujuan pendidikan yang begitu mulia namun sekali lagi terjadi gap antara realita yang terjadi saat ini karena saat ini “pendidikan kita telah kehilangan makna”.

Beliau memulai dari paradigma tentang pendidikan itu sendiri, dimulai dari sejarah, apa itu sekolah? Ternyata sekolah pada zaman dahulu kala memiliki arti waktu luang, dimana pada zaman dahulu, setelah anak-anak punya mimpi tentang apa yang mau dia kerjakan orang-orang tua mereka menyuruh mereka untuk menemui para cendekia yang ada saat itu tentunya ilmu yang dianggap penting oleh mereka. Sehingga menurut beliau pendidikan selama 12 tahun yang kita alami hingga saat ini minim sekali menanamkan yang namanya “Cita-cita”.

Pembicaraan berlanjut ke Army, army menyampaikan bahwa manajeman pendidikan kita hingga saat ini belum beres dan tidak adanya Political will dari pemerintah,contoh sederhana yang beliau ambil ialah pada saat beliau bertemu dengan Kepala Diknas Kota Bandung yang mengungkapkan saat ini dana pendidikan yang ada di kota Bandung yang jumlahnya ratusan juta, masih bingung mau dialokasikan kemana, dan Army mengungkapkan dari studi yang dilakukan oleh BIGS, jika semua dana yang tidak efektif didiknas kota Bandung diambil (Baca: dikorupsi) maka pendidikan di Kota Bandung bisa gratis sampai ke seragam sekolah.

Diskusi pun ditutup oleh Lizzy yang mengungkapkan tentang peran konkret apa yang dapat dilakukan mahasiswa yang intinya mah, mari kita berbuat dari lingkup yang terkecil. Jika lingkup terkecil yang dekat dengan kita kita sulit mengelola lalu bagaimana dengan lingkup yang lebih besar. Pesan terakhir beliaukurang lebih sebagai berikut: ayo dating ke Rumah Belajar (jadi pengajar boleh apalagi jadi donator).

Sekian catatan singkat dari Dialekta tanggal 10 September 2008 yang lalu.

Posted by: bumiridho | September 16, 2008

MALU AKU MENATAP WAJAH SAUDARAKU PARA PETANI

MALU AKU MENATAP WAJAH SAUDARAKU PARA PETANI

(Puisi ini ditulis acara Taufik Ismail, Alumni FKH-IPB, untuk Temu Akbar Alumni IPB 200, Jakarta, 5 Juli 2003 )

Ketika menatap Indonesia di abad 21 ini

Tampaklah olehku ratusan ribu desa,

Jutaan hektar sawah, ladang, perkebunan,

Peternakan, perikanan,

Di pedalaman, di pantai dan lautan,

Terasa olehku denyut irigasi, pergantian cuaca,

Kemarau dan banjir datang dan pergi

Dan tanah airku yang

Digebrak krisis demi krisis, seperti tak habis habis,

Terpincang-pincang dan sempoyongan.

Berjuta wajahmu tampak olehku

Wahai saudaraku petani, dengan istri dan anakmu,

Garis-garis wajahmu di abad 21 ini

Masih serupa dengan garis-garis wajahmu abad yang lalu,

Garis-garis penderitaan berkepanjangan,

Dan aku malu,

Aku malu kepadamu.

Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani di pedesaan.

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani.

Beras yang masuk ke perut kami

Harganya kalian subsidi

Sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian

Tak pernah kami orang kota

Kepada kalian petani, ganti memberikan subsidi

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Kalian selama ini kami jadikan objek

Belum lagi jadi subjek

Berpulih-puluh tahun lamanya.

Aku malu.

Hasil cucuran keringat kalian berbulan-bulan

Bulir-bulir indah, kuning keemasan

Dipanen dengan hati-hati penuh kesayangan

Dikumpulkan dan ke dalam karung dimasukkan

Tetapi ketika sampai pada masalah penjualan

Kami orang kota

Yang menentapkan harga

Aku malu mengatakan

Ini adalah suatu bentuk penindasan

Dan aku tertegun menyaksikan

Gabah yang kalian bakar itu

Bau asapnya

Merebak ke seantero bangsa

Demikian siklus pengulangan dan pengulangan

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani

Karbohidrat yang setia kalian sediakan

Harganya tak dapat kalian sendiri menentukan

Sedangkan kami orang perkotaan

Bila kami memproduksi sesuatu

Dan bila tentang harga, ada yang mencoba campur tangan

Kami orang kota akan berteriak habis-habisan

Dan mengacungkan tinju, setinggi awan

Kalian seperti bandul yang diayun-ayunkan

Antara swasembada dan tidak swasembada

Antara menghentikan impor beras dengan mengimpor beras

Swasembada tidak swasembada

Menghentikan impor beras mengimpor beras

Bandul yang bingung berayun-ayun

Bandul yang bingung diayun-ayunkan

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Kalian selama ini kami jadikan objek

Belum jadi subjek

Berpuluh-puluh tahun lamanya

Aku malu

Didalam setiap pemilihan umum dilangsungkan

Kepada kalian janji-janji diumpankan

Tapi sekaligus ke arah kepala kalian

Diacungkan pula tinju ancaman

Dulu oleh pemerintah, kini oleh partai politik

Dan kalian hadapi ini

Antara kesabaran dan kemuakan

Menonton dari kejauhan

DPR yang turun, DPR yang naik

Presiden yang turun dan presiden yang naik

Nasib yang beringsut sangat lamban

Dan tak kudengar dari mulut kalian

Sepatah katapun diucapkan

Saudaraku,

Ditengah krisis ini yang seperti tak habis-habis

Di tengah azab demi azab menimpa bangsa

Kami berdoa semoga yang selama ini jadi objek

Dapatlah kiranya berubah menjadi subjek

Jangka waktunya pastilah lama

Tapi semuanya kita pulangkan

Kepada Tuhan

Ya Tuhan

Tolonglah petani kami

Tolonglah bangsa kami

Amin.

Juli 2003


Posted by: bumiridho | August 26, 2008

Ramadhan oh ramadhan ….

dari (http://www.almanhaj .or.id/content/ 1080/slash/ 0)

TARGHIB PUASA RAMADHAN

Oleh
Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid

[1]. Pengampunan Dosa

Allah dan Rasul-Nya memberikan targhib (spirit) untuk melakukan puasa
Ramadhan dengan menjelaskan keutamaan serta tingginya kedudukan puasa,
dan kalau seandainya orang yang puasa mempunyai dosa seperti buih di
lautan niscaya akan diampuni dengan sebab ibadah yang baik dan diberkahi
ini.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, (bahwasanya) beliau bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman
dan ihtisab maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” [1]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, -Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

“Artinya : Shalat yang lima waktu, Jum’at ke Jum’at. Ramadhan ke
Ramadhan adalah penghapus dosa yang terjadi di antara senggang waktu
tersebut jika menjauhi dosa besar” [Hadits Riwayat Muslim 233]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga, (bahwasanya) Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata :
Amin, Amin, Amin” Ditanyakan kepadanya : “Ya Rasulullah, engkau naik
mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?” Beliau bersabda.
“Artinya : Sesungguhnya Jibril ‘Alaihis salam datang kepadaku, dia
berkata : “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni
dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan
“Amin”, maka akupun mengucapkan Amin….” [2]

[2]. Dikabulkannya Do’a dan Pembebasan Api Neraka

Rasullullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang dibebaskan dari
neraka setiap siang dan malam dalam bulan Ramadhan, dan semua orang
muslim yang berdo’a akan dikabulkan do’anya” [3]

[3]. Orang yang Puasa Termasuk Shidiqin dan Syuhada

Dari ‘Amr bin Murrah Al-Juhani[4] Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata :
Datang seorang pria kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian
berkata : “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika aku bersaksi bahwa tidak
ada sesembahan yang hak kecuali Allah, engkau adalah Rasulullah, aku
shalat lima waktu, aku tunaikan zakat, aku lakukan puasa Ramadhan dan
shalat tarawih di malam harinya, termasuk orang yang manakah aku ?”
Beliau menjawab.
“Artinya : Termasuk dari shidiqin dan syuhada” [Hadits Riwayat Ibnu
Hibban (no.11 zawaidnya) sanadnya Shahih]

[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid,
terbitan Pustaka Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
_________
Foote Note.
[1] Hadits Riwayat Bukhari 4/99, Muslim 759. Makna “Penuh iman dan
Ihtisab’ yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya
senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam
mengamalkannya
[2] Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 3/192 dan Ahmad 2/246 dan 254 dan
Al-Baihaqi 4/204 dari jalan Abu Hurairah. Hadits ini shahih, asalnya
terdapat dalam Shahih Muslim 4/1978. Dalam bab ini banyak hadits dari
beberapa orang sahabat, lihatlah dalam Fadhailu Syahri Ramadhan
hal.25-34 karya Ibnu Syahin
[3] Hadits Riwayat Bazzar 3142, Ahmad 2/254 dari jalan A’mas, dari Abu
Shalih dari Jabir, diriwayatkan oleh Ibnu Majah 1643 darinya secara
ringkas dari jalan yang lain, haditsnya Shahih. Do’a yang dikabulkan itu
ketika berbuka, sebagaimana akan datang penjelasannya, lihat Misbahuh
Azzujajah no. 60 karya Al-Bushri
[4] Lihat Al-Ansab 3/394 karya As-Sam’ani, Al-Lubap 1/317 karya Ibnul Atsir

Older Posts »

Categories