Tentang Imam Ahmad
Lihatlah di penjuru Baghdad
Semua berdiri di jendela memegang pena
Siap menuliskan kata-kata Ahmad
Apakah layak Ahmad selamat
Sementara semua manusia sesat ?
(Imam Ahmad dalam jeruji besi)
Kawan-kawan ketika saya mendalami warna pemikiran yang berada dikepala saya khususnya terkait dengan keislaman saya, maka kemudian saya berpikir tentang beliau, walaupun saya lebih mengenal beliau dari ceramah dan ta’lim yang saya ikuti dibandingkan dengan membaca bukunya tetapi jika menelisik buku-buku dan tokoh yang mewarnai pemikiran Islam dalam kepala saya maka saya menemukan beliau disana.
Beliau adalah orang yang luar biasa yang menjadi rujukan berbagai orang, baik yang beraktivitas dalam harakah maupun yang tetap konsisten dengan jalan salaf, sehingga dengan jelas saya bisa mengatakan bahwa beliau adalah pelita zaman.
Ya, beliau adalah pelita yang tak hanya menerangi zamannya dengan keteguhan iman dan keluasan ilmunya tetapi juga mewariskan pelita tersebut hingga saat ini dimana Hadits-hadits riwayat beliau termasuk dalam kitab hadits utama, buku-buku beliau dibaca, perkataan beliau di nukil dan perjalanan hidup beliau dijadikan kisah yang menyemangati orang-orang yang mengkuti jalan beliau.
Ya, jalan beliau adalah jalannya para nabi dan Rasul, jalannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yaitu jalan Dakwah.
Entah mengapa kata-kata Dakwah saat ini menjadi kata-kata yang mewah yang hanya dimiliki oleh orang-orang berlabel aktivis mesjid dan menjadi tampak begitu berat didengar oleh sebagian kaum muslimin mungkin termasuk saya, padahal dakwah adalah milik kaum muslimin, dengan dakwahlah kaum muslimin secara pribadi dan secara komunal dapat membawa kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena dakwah seharusnya tidak hanya berhenti di langgar, mesjid atau mushola dakwah seharusnya ada di ruang kelas, di laboratorium, di acara himpunan, acara Kabinet, di televisi dan tempat serta metode lainnya sesuai dengan budaya massa yang berkembang hingga saat ini dengan konten yang sama. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pun mengatakan “sampaikanlah walau hanya satu ayat”
Dakwah yang dibawa beliau adalah dakwah yang lugas bersumber pada sumber yang jelas yaitu Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salaffushalih, dan inilah kemudian yang saya coba untuk ikuti dengan segala keterbatasan yang masih ada pada diri saya.
Kisah beliau yang senantiasa diceritakan kepada saya (cerita yang umum diceritakan ketiak ustadz-ustadz membahas mengenai kisah imam ahmad) ialah mengenai keteguhan hati beliau saat dengan kepenuhan hati dan berkat bimbingan Allah beliau menolak untuk mengatakan bahwa “Al Qur’an Adalah Makhluk” sesuai dengan pemikiran yang berkembang dizaman beliau ketika khalifah saat itu sangat dipengaruhi oleh faham mu’tazilah (jaman sekarnag identik dengan kaum liberal) yang mengedepankan akal untuk memahami ajaran Islam ini, beliau dengan teguh mengatakan bahwa “Al Qur’an adalah Kalamullah (perkataan Allah)” akibatnya beliau dipenjara dan dalam penjara beliau disiksa setiap hari, namun beliau tetap teguh dengan pendiriannya, karena beliau menyadari bahwa beliau adalah simpul umat dizamannya dan tiap kata-kata akan dipertanggungjawabkan serta yang paling utama ialah keselamatan Aqidah umat, beliau mencintai umat ini sebagaimana beliau ingin meneladani Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang begitu mencintai umat yang dipimpinnya.
Ketika itu sipir penjara bertanya kepada beliau, “Ya Imam, mengapa engkau tidak mengambil keringanan dari Allah?” Maka Imam Ahmad Menjawab:
Lihatlah di penjuru Baghdad, semua berdiri di jendela memegang pena, siap menuliskan kata-kata Ahmad. Apakah layak Ahmad selamat, Sementara semua manusia sesat ?
Begitulah seorang ulama, seorang pejuang seorang imam Ahmad, bagaimana surga telah begitu jelas pada benak beliau bagaimana begitu yakinnya beliau bahwa kemuliaan ada di sisi Allah Azza Wa Jalla, bukan disisi penguasa yang berkuasa di zaman beliau, padahal dengan mudahnya beliau sebagai simpul massa di zamannya bisa mendekat ke penguasa.
Ketika itu, beliau ditanya oleh seorang muridnya, karena muridnya melihat beliau jarang sekali beristirahat dan senantiasa berjuang dan berdakwah walaupun umur telah menggeorogoti tubuhnya.
Ya imam, Kapankah engkau akan beristirahat?
Imam Ahmad pun menjawab
Saya akan beristirahat ketika kaki ini telah menginjakkan kaki di surga
Subhanallah
Semoga Allah merahmati beliau …
Subhanallah..syukran atas tulisannya Akhy.
Oh ya..afwan baru mampir akhir pekan lalu kok blog ini gak bisa dibuka dari kantor ya. Link nya udah Akh.
By: tsdipura on May 18, 2009
at 3:53 am
Semoga kita juga bisa mencontohd an mengikuti jejak langkah beliau. amiiin….
By: ReadH on May 19, 2009
at 3:25 am