Oleh: bumiridho | Februari 22, 2008

Sejumput Harapan Kemandirian Bangsa dari Industrialisasi Nasional

Ini Essay saya yang dikirimin buat di lombain di PBT ITB 2008 …                                             harap di kritisi ya!

Sejumput Harapan Kemandirian Bangsa

Pada Industrialisasi Nasional

 

Kasihan bangsa yang mengenakan pakaian yang tidak ditenunnya,

memakan roti dari gandum yang tidak mereka panen,

dan meminum anggur yang mereka tidak memerasnya …

Kahlil Gibran “Cinta Keindahan Kesunyian”

 

Di awal abad 21 ini saat dimana dunia semakin mengglobal, tampaknya bangsa ini telah menunjukkan ketertelanannya dan keterbatasannya kepada kondisi tersebut. Sebuah bangsa ironi yang hidup diatas sumber daya yang tidak dinikmatinya, yang hidup diantara kekayaan alam yang entah lupa atau tak bisa untuk mengolahnya  dan lebih buruk lagi bangsa ironi yang hidupnya bergantung pada orang dan bangsa lain.

Tak ayal data dan fakta telah sering kita lihat dan dengar. Indonesia negara tropik berposisi geografik strategis, berkawasan luas, 1,3 % muka bumi, dengan jumlah pulau 13 – 17 ribu pulau, bergaris pantai terpanjang di dunia (± 81.000 km), luas daratan ± 191 juta hektar, teritori laut ± 317 juta hektar (± 473 hektar dengan Zona Ekonomi Ekslusif), potensi sumber daya manusia besar karena berpenduduk banyak ( > 220 juta jiwa), kekayaan alam amat menggiurkan baik terbarukan maupun tak terbarukan minyak bumi, gas bumi, batubara, aluminium, tembaga, nikel, emas, besi, mangan, dll. Ditambah  keanekaragaman hayati darat nomor dua  di dunia yang jika digabung dengan kekayaan laut nomor satu didunia, potensi tanaman pangan ± 800 spesies dan ± 1000 spesies tanaman medisinal. Sebuah deretan potensi yang seharusnya melahirkan idealita seperti kesejahteraan dan kemakmuran yang terhempas oleh kondisi realita kita saat ini seperti korupsi, instabilitas ekonomi, ketergantungan terhadap bahan baku impor dan sebagainya

 

Dengan kondisi diatas jelas bagi kita untuk merekonstruksi dan melakukan berbagai perbaikan di berbagai bidang, namun pada tulisan ini saya coba untuk memaparkan Industrialisasi sebagai upaya untuk menyelesaikan permasalahan bangsa terkait dengan kemandirian.

Mengapa Industrialisasi? Bagi saya fenomena industri merupakan fenomena yang menarik karena dalam perjalanannya industrialisasi telah merubah  tatanan peradaban dunia karena Industrialisasi tidak hanya membawa efek berupa jumlah produk yang meningkat tetapi Industrialisasi juga membawa budaya yaitu budaya inovatif, kreatif dan progressif. Hal ini bisa kita lihat pada negara-negara maju di dunia saat ini, negara seperti Amerika, Jepang, Jerman dan sebagainya merupakan negara yang  baik bangun struktur industrinya  selain itu kita pun mengetahui mengenai etos kerja masyarakat negara maju yang seperti saya katakan diatas inovatif, kreatif dan progressif.

Selain itu saat ini negara-negara lainnya pun tengah melaju kencang dengan industrialisasinya seperti China, Thailand, Malaysia, Vietnam dan sebagainya. Berbeda dengan Indonesia negara-negara tersebut mampu untuk membangun struktur Industri mereka dengan baik seperti adanya program yang jelas , adanya produk unggulan dan  pengusaan teknologi yang baik sehingga saat ini jarang kita mendengar Vietnam mengimpor bahan kebutuhan pokok.

Maka Industrialisasi kedepannya yang saya harapkan ialah industrialisasi yang mengusung terwujudnya cita-cita kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia, dikelola oleh putra-putri bangsa, terbuka terhadap perubahan, berdaya saing dan mampu untuk bekerja sama dan berkontribusi dengan bangsa-bangsa lainnya didunia secara positif.

 
Melihat Industri Indonesia saat ini

Secara praktis Industri dapat diartikan sebagai kegiatan memproses atau mengolah bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai guna dengan skala komersial maka dengan pengertian tersebut maka dapat dikatakan kondisi perindustrian suatu negara dapat mencerminkan kemampuan negara tersebut dalam mengolah bahan mentah, mencukupi kebutuhan nasional bahkan menyuplai kebutuhan negara lain melalui ekspor yang pada akhirnya menjadi  devisa bagi negara. Sehingga kemampuan industri menjadi salah satu syarat penting bagi suatu negara untuk memiliki kemandirian dan daya saing didunia internasional.

Lalu bagaimana dengan kondisi industri Indonesia saat ini? Paparan fakta-fakta pada pembukaan menunjukkan kepada kita buruknya kondisi perindustrian di negara ini hal ini senada dengan data United Nation Industrial Development Organization (UNIDO) yang menunjukkan pada tahun 2002 Indonesia menempati peringkat terbawah dalam hal Industrialisasi diantara negara-negara Asean lainnya sehingga bukan hal yang aneh jika saat ini kita mengimpor barang kebutuhan sehari-hari seperti beras dari Thailand, bahkan produk seperti shampoo yang beredar di Indonesia pun dibuatnya di negeri gajah putih tersebut.

Dengan minimnya angka industrialisasi ini jelas menunjukkan rapuhnya struktur Industri Indonesia. Kerapuhan tersebut berupa: Tidak kokohnya bangun industri dasar dan pokok bagi kebutuhan masyarakat, pengembangan Industri yang belum berbasis kepada pemanfaatan riset dan teknologi, dan belum adanya pola pengembangan Industrialisasi  yang baik di Indonesia. Berikut akan saya coba bahas solusi dari ketiga hal tersebut

 

In Harmonia Progressio

Meminjam istilah ITB, setiap pihak seharusnya menyadari mengenai perannya masing-masing dalam mengembangkan industri nasional, setidaknya ada tripatriat yang memgang peranan penting dalam pengembangan industri nasional Pemerintah-Akademisi-Praktisi (kalangan industri dan pengusaha). Pemerintah seharunya mampu untuk bermain mengeluarkan kebijakan-kebijakan jitu, tegas dan bebas dari intervensi kepentingan asing yang tidak baik misalnya dalam hal privatisasi sektor-sektor yang penting bagi kebutuhan masyarakat dan Industri Nasional, pemerintah seharusnya mampu untuk tegas mengambil dan mengatur sektor-sektor penting yang erat kaitannya dengan bahan baku industri nasional seperti energi (gas bumi, minyak dan batu bara) jika perlu seperti venezuela yang melakukan nasionalisasi terhadap aset-aset korporasi asing di negerinya, selain itu pola kebijakan industri Indonesia yang memprioritaskan tiga Industri utama yaitu Manufaktur, Agro dan ICT  perlu untuk pemerintah sosialisasikan layaknya slogan ”Visit Indonesian Year 2008” sehingga seluruh sumber daya bangsa tercurah untuk membangun ketiga industri tersebut.

Akademisi dengan gerakan intelektual dan keprofesiannya selain memainkan peranannya untuk menghasilkan sarjana-sarjana yang cakap dan mampu untuk mengatasi problema masyarakat juga sangat berperan dalam pengembangan riset dan teknologi serta sebagai problem solving permasalahan Industri Indonesia, dengan adanya pola ini diharapkan dapat terwujudnya kampus riset dimana mahasiswanya langsung  bersentuhan dengan problema nyata yang terjadi.

Para Praktisi kemudian berperan dalam melakukan pengembangan sumber daya lokal,  melakukan pengembangan diversifikasi produk , dan pengembangan kerjasama dengan institusi akademik dan lembaga penelitian pemerintah.

Hal yang memerlukan fokus khusus dari tripatriat tersebut saat ini ialah pengembangan riset dan teknologi hal ini dikarenakan produk-produk Indonesia berdasarkan data UNIDO berikut belum memaksimalkan teknologi untuk meningkatkan nilai guna dari produk tersebut.

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengembangan Industri Berbasis karakteristik Domestik

Salah satu hal yang cukup dilupakan oleh pemerintah dalam hal pengembangan Industri saat ini ialah kurang ditinjaunya karakteristik domestik Indonesia, efek dari hal ini dapat kita rasakan sekarang seperti mulai dari beras sampai bahan baku dasar industri kita masih impor.  Pengembangan karakteristik domestik yang dimaksud misalnya pengembangan Industri berbasis sumber daya alam terbarukan seperti pengembangan Biofuel, Biomass, CPO, pengembangan sumber daya kelautan sehingga jika kita kembangkan dengan baik maka pada 2030 Indonesia dapat berdiri di negara-negara lainnya dengan berbagai produk unggulan berbasis sumber daya alam terbarukan.

Karakteristik kedua yang dimaksud ialah sistem pengembangan yang dilakukan, sistem yang patut dikembangkan di Indonesia ialah Town Village Enterprise dan Agropolitan, kedua sistem ini memiliki keunggulan untuk mengoptimasi proses, karena dengan sistem ini para petani misalnya petani minyak nilam tidak hanya akan berhenti hingga mengekstraksi minyak nilam saja tetapi juga mampu untuk memproduksi parfum yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi hal ini dikarenakan pada TVE dan Agropolitan fenomena sistem terbuka berubah menjadi sistem tertutup dimana produk yang dihasilkan dari suatu sistem proses digunakan sebagai bahan bagi proses lainnya selain itu pada TVE dan Agropolitan dapat didukung juga oleh dengan membangun community college dan pusat-pusat riset lokal yang lebih intens dan spesifik. Setidaknya sistem TVE ini telah terevaluasi di China dan Agropolitan di Provinsi Gorontalo yang keduanya menunjukkan hasil yang positif dimana China berkembang menjadi negara industri dan gorontalo mampu untuk berkembang dengan mengunggulkan produk utamanya yaitu jagung.

Satu hal yang pasti, peluang tidak datang tanpa dicari dan potensi juga tidak berarti apa-apa jika tidak diimplementasikan dengan perencanaan yang jelas dan konsisten

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Responses

  1. wuiihh.. Idho, salut dah atas hasil pemikirannya.
    pokoke Idho mah TOP bgt…hehehe

    eh, ngomong2 sepatah syair di awal tulisan itu disalin dari slide PIK pak Tatang ya…

    ho ho ho

  2. great…idho.

    Sy juga sepakat kalau Indonesia harus serius mengembangkan industri hilir yang berbasis kearifan lokal.

    Sedikit menambahkan tentang peran akademisi yang dalam hal ini adalah perguruan tinggi. Saya melihat bahwa ITB yang dalam hal ini seharusnya bisa memainkan tri dharma perguruan tinggi yaitu riset, edukasi, dan pengabdian masyarakat terlihat ada peran yang terlewatkan yaitu pengabdian masyarakat. pengabdian masyarakat yang selama ini dilakukan oleh mahasiswa ITB cenderung berasal dari organisasi kampus. dan mungkin hanya mahasiswa tertentu saja yang berkiprah di dalamnya. lantas bagaimana dengan mahasiswa yang lain? menurut saya harusnya bentuk penanaman altruime (betul kan nulisnya)/pengabdian masyarakat itu terwujud dalam bentuk SKS atau kalau dalam universitas lain identik dengan KKN

  3. Bung ridho, selanjutnya bagaimana perletakan konsep industrialisasi nasional dalam tatanan sosial, politik, ekonomi dan budaya di negara yang harus diakui rakyatnya sebagian besar masih berada di wilayah-wilayah kehidupan agraria. Menciptakan kolaborasi harmonis diantara dua wilayah ini. Mungkin bung masih punya kesempatan menelaah hal ini.

  4. @ Bung Mulyadi, insyaallah saya coba telaah terkait Industrialisasi di masalah ini, yang jelas harapan dari adanya industrialisasi terhadap agraria tujuan akhirnya ialah kesejahteraan petani.
    Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: