Oleh: bumiridho | April 25, 2008

Dekat Dengan Realita

Dekat dengan Realita

Tugas perguruan tinggi adalah membentuk manusia susila dan demokrat yang :

1. Memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya.

2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan.

3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat.

(Muhammad Hatta)

Rabu pagi kemarin setidaknya saya kembali tersengat oleh analisis seorang Dosen (sebenarnya sih kuliah biasa tapi apa yang beliau sampaikan tentang potensi industri kimia di indonesia cukup menyegarkan kepala).

Beliau di awal kuliah memaparkan tentang “Dimana Posisi Indonesia Saat Ini?”

Beliau memulai dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) Indonesia, memang bukan hal yang mencengangkan ketika saya mendengar posisi Indonesia berada di posisi 107 tapi setidaknya yang membuat seisi kelas berpikir adalah meloncatnya posisi negara-negara Asia yang semula dibawah Indonesia kemudian kini berada diatas Indonesia.

Kemudian beliau menerangkan mengenai APBN hasil revisi terakhir yang didalamnya tercantum subsidi untuk energi sebesar 126 Milyar US$ yang besarnya 4 kali anggaran pendidikan kita, sekali lagi memang bukan hal yang mencengangkan, tetapi setidaknya terdapat hal yang mencekam yaitu harga minyak dunia yang semakin lama semakin membumbung tinggi yang otomatis pemerintah menghadapi dua “dilema besar” Naikkan harga BBM atau potong anggaran yang lain serta tentunya opsi terakhir yang sungguh tak mengenakkan “Hutang Luar Negeri

Kuliah pun selesai, kemudian saya berpikir “Jiga naon Indonesia kahareup?

Esok harinya tepat hari ini, dua orang datang yang intinya memberitahukan tentang fit & proper test menteri, menteri Pendidikan dan Kajian tepatnya. Kemudian saya pun menulis essay ini dengan pikiran dalam otak ( Ini kayanya salah satu jalan Allah buat saya buat bisa memperbaiki diri dan lebih besar lagi merealisasikan hal-hal kecil yang ada di otak saya, lagia Fit & Proper Test kalo lulus berati berkompeten kalo enggak berarti ini bukan jalan saya).

Kemudian saya berpikir tentang apa yang pernah saya pikirkan setelah membaca sebuah tulisan (saya lupa bukunya), tentang altruisme, sebuah paham tentang bagaimana kita berbuat menolong orang lain tanpa pamrih yang lahir dari konstruksi moralitas yang agung dan kejernihan visi dalam merawat kolektivitas komunal untuk tujuan bersama.

Saya setuju dengan pendapat sebagian orang yang mengatakan negeri ini menjadi bengal dikarenakan miskinnya Altruime diantara kita, khususnya pada diri pemimpin dan pemilik modal di negeri ini. Bagi saya hal ini merupakan fenomena yang lazim terjadi pada negara yang proses pendidikannya tak pernah menanamkan dengan baik tujuan pendidikannya pada anak didiknya, indoktrinasi memang ditanamkan dengan adanya materi kewarganegaraan sampai kuliah. Namun sekali lagi sudahkah kembali lahir manusia Indonesia sekelas Soekarno, Hatta, Natsir dan Buya Hamka setelah negeri ini merdeka? Mungkin bagi sebagian orang ada, tapi saya masih belum melihat adanya pemimpin dengan figur tersebut, semuanya masih menjadi bahan tontonan di panggung politik dengan janji pendidikan gratis, stabilisasi harga pangan dan terbukanya lahan pekerjaan.

Pendidikan Hadap Masalah

Pemimpin dan orang-orang yang kebaikannya dikenang semacam Ma Eroh yang memenangkan Kalpataru karena menggali saluran irigasi bagi desanya, merupakan mereka yang pemikirannya lahir karena bersentuhan langsung dengan realitas, semisal Ma Eroh yang merasakan kesulitan irigasi yang melanda desanya yang kemudian dia berpikir bagaimana mencari solusi atas permalahan tersebut dan atas izin-Nya ternyata Ma Eroh mampu, padahal saya yakin beliau bukan sarjana sipil.

Hal menarik tentang manusia Indonesia yang tumbuh idealismenya setelah bergesekan dengan realitas saya dapat pula pada Tetralogi Pulau Buru karangan Pramoedya Ananta Toer, bagaimana tokoh Minke ditubrukkan dengan berbagai masalah mulai dari pribadi sampai permasalahan dunia saat itu yaitu Kolonialisme Kapitalis atau yang lebih agung lagi ialah bagaimana Muhammad SAW diminta oleh Tuhan-Nya untuk membaca realitas zamannya dan bagaimana Musa menentang rezim yang menindas pada zamannya.

Lalu bagaimana dengan pendidikan kita khususnya di kampus ITB ini, sudahkah kita ditanamkan tentang tujuan pendidikan kita, atau kita hanya disiapkan menjadi eksekutif yang hanya mengerti bagaimana melobi orang, berbisnis, menggambar dan meneliti serta menikmati dunia.

Yah, wacana-wacana seperti ini memang sudah banyak di hembuskan oleh kawan-kawan sebelum saya, dan apa yang saya wacanakan minimal saya harap bisa merefresh pikiran kita semua, karena di ITB kita perlu lebih dekat dengan realita kemanusiaan yang terjadi disekitar kita, karena kita golongan terpelajar dan bagi saya karena saya makhluk Tuhan.

Lalu aplikasi sederhana seperti apa yang bisa kita lakukan di ITB ini? Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan.

· Dekatkan dan libatkan kawan-kawan kita dengan realitas masyarakat

Menarik ketika saya melihat kampanye dari HMTL ITB tentang non-plastic bag, Nymphaea dan U Green dengan Global Warmingnya, HME dengan Mikro Hidronya, PSIK dengan PLTSAnya, Himatek dengan reklamasi sungainya dan karya-karya nyata mahasiswa ITB lainnya.

Tapi pertanyaannya sudah kita bergerak secara kultural? Atau kita masih bergerak secara insidental, hal-hal diatas perlulah disokong dengan kegiatan kaderisasi dan pembelajaran baik akademik maupun non akademik yang mampu untuk membahaskan bahasa filosofis secara sederhana dan lebih dirasakan sehingga mahasiswa secara individu mempunyai mimpi-mimpinya tersendiri terkait dengan pencapaian pribadinya

· Bawa sebanyak-banyaknya isu kedalam kampus

Dialekta sebagai kajian sentralistik memang menarik tetapi akan lebih menarik ketika lembaga-lembaga mulai dari himpunan, unit, comlabs dll. Memulai kajian dengan karakteristik uniknya masing-masing, sulit memang tetapi dapat kita mulai dengan buletin-buletin, mading, blog dan media lainnya

· Peran Pengajar

Mungkin kita akan sulit merubah kurikulum, tetapi tidaklah sulit ketika kita meminta dosen-dosen kita untuk siap memberikan curahan ilmunya, pandangan-pandangannya, serta perhatiannya terkait masalah-masalah keprofesian yang terjadi di sekitar kita selain dengan contoh yang beliau berikan dengan senantiasa berkarya dan memberikan ruang karyanya bagi mahasiswa.

Saya pikir pasti lebih banyak ide-ide kawan-kawan lainnya yang bersifat aplikatif yang berintikan ”dekatkan kampus kita dengan realita”, sehingga proses pendidikan di kampus ini tidak hanya menjadi pendidikan yang membosankan tetapi meminjam istilah freire ialah pendidikan yang membebaskan.

Mengakhiri tulisan singkat ini saya tulis kembali apa yang saya bold pada awal tulisan saya dalam bahasa Indonesia ”Seperti apa Indonesia kedepan?”

Indonesia kedepan sebagain besar ditentukan oleh bagaimana takdir Tuhan dan bagaimana perhatian golongan terpelajar terhadap bangsa ini dan kedepan yang kita hadapi bukan saja masalah Indonesia tetapi masalah global yang begitu kompleks.

Sekali lagi saya ulang apa yang dikatakan Hatta diawal-awal dengan bahasa yang menurut saya menarik

Pendidikan bertujuan memanusiakan manusia


Muhammad Ridho F.W.

13005061

085720079380

Iklan

Responses

  1. Subhanallah…

    waduh…

    baca tulisan Ridho bikin saya makin keki, asa gak berguna (belum meureun nya?) ilmu fisika teh rek dibawa ka mana di Indonesia…

    ah… akhirnya dapet nomor Ridho yang bener…

  2. Ah, kang Ridwan Tekim teh Fisika-fisika Keneh, belajar Mekanika Fluida, perpindahan Panas (Fenoimena Fisika seeurna mah).

    Ditunggu kang, saya juga can jieun nanaon, baru bisa ngomong doang 🙂

  3. wow Ridho …. makin matang aja hehehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: