Oleh: bumiridho | Juli 25, 2008

Generasi Ambil Alih

Generasi Ambil-Alih

Secara tidak sengaja saya membuka buku 30 tahun kertas leces di perpustakaan tempat saya kerja praktek, kemudian saya menemukan hal yang menggugah dan terus terang membuat bulu kuduk saya berdiri. Seakan mimpi tentang masa depan Indonesia dimana kekayaan-kekayaan bangsa ini dikuasai oleh TNC-TNC asing khususnya di aset-aset vital seperti energi dan kekayaan hutan (seperti fakta masa kini dimana pada tahun 2006 yang lalu Blok Cepu dikuasai Exxon Mobile, Freeport yang masih bertengger tegak di Papua dan kebun kelapa sawit kita yang terbesar didunia yang saat ini dikuasai oleh Malaysia) mulai menemukan sebuah titik terang yang bagi saya memberikan inspirasi generasi kita untuk mengadakan perbaikan secara berani.

Mengapa saya katakan perbaikan secara berani? karena apa yang akan saya tuliskan disini (dimana saya menyadur dari buku 30 tahun kertas Leces) bagi saya boleh dikatakan heroik, bagaimana seorang dosen teknik kimia ITB bernama Soehadi Reksowardojo melakukan inisiasi proses pengambilalihan pabrik-pabrik kertas milik Belanda menjadi milik Indonesia, ya milik kita, menjadi milik masyarakat yang dapat kita nikmati hingga saat ini.

Begini ceritanya :

Pada awal Desember 1957, Ir. Soehadi Reksowardoyo selaku penasehat kementrian P.P&K urusan veteran/mahasiswa-pelajar pejoang menghantar enam orang veteran ex. Brig XVIII (Ir. Syarif Ismail, Martoyo, Barna, Erwin, dll.) ke Papierfabriek Padalarang. Maksud kunjungan adalah untuk “mengintip pabrik” dan “mengumpulkan data teknologi perkertasan” guna bekal bagi ke-enam orang tersebut yang pada waktu itu diserahi pembangunan pabrik kertas di Blabak milik Bank Industri Negara (BIN ; sekarang Bapindo). Kunjungan dilakukan secara “diam-diam” (clandestin) pada sore hari, karena Administrateur Papier-fabriek Padalarang Ir. Van Der Lee menolak permintaan BIN untuk berkunjung secara resmi.

Suasana dalam pabrik terasa cukup tegang dan menempatkan Ir. Ahmad Slamet sebagai Staf Indonesia yang tertinggi pada perusahaan itu dalam keadaan yang terjepit. Di satu pihak buruh menekan Ir. Slamet untuk “mengoper” pabrik dari tangan Belanda, sedangkan di pihak lain Administrateur Ir. Van Der Lee memerintahkan Ir. A. Slamet untuk menghadapi dan mengatasi buruh. Gerakan buruh itu ternyata diilhami oleh sikap dan pernyataan pemerintah cq. Presiden untuk menempuh “jalan lain” dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dengan mengkikis habis segala potensi dan kekuatan ekonomi Belanda di Indonesia.

Mengingat pengalaman-pengalaman kurang baik tentang penguasaan pabrik oleh buruh dalam periode revolusi fisik, serta untuk mencegah kekacauan politik (political chaos) maka malam itu juga Ir. Soehadi Reksowardojo dengan diantara oleh Mayor Hartono (Cdt. Palad Terr. III/ex TNI Brig. XVIII: sekarang Majen Purn.) menemui Perwira Penguasa Perang Daerah Ter. III/ Jawa Barat (Peperda Jabar). Mayor Mashudi (sekarang Let. Jen. Purn.).

Malam itu juga diputuskan oleh Peperda Ter. III/Jabar :

  • · Pengambilan alih Papierfabriek Padalarang oleh Peperda berlandaskan SOB (Staat Van Oorlog en Beleg)
  • · Langkah-langkah pengambilan alih dipercayakan kepada Ir. Soehadi Reksowardojo.

Pada pertemuan berikutnya antara Mayor Mashudi, Mayor I. Suseno (pada waktu itu adalah : perwira Pindad diperbantukan kepada Peperda Ter. III), dan Ir. Soehadi Reksowardojo diputuskan tindakan-tindakan lanjut :

  • · Ambil alih/Overname Papierfabriek Padalarang meliputi pabrik kertas di Padalarang dan di Letjes.
  • · Pengambilan alih dan pengurusan perusahaan selanjutnya dilakukan oleh : “DEWAN PIMPINAN PABRIK KERTAS PADALARANG-LETJES” yag terdiri dari:

a. KETUA : Kapten Ir. Handojo (unsur tentara) Perwira Pindad; ex Brig XVII; sekarang Majen Purn. Prof. Ir. Handojo.

b.WK. KETUA/KETUA HARIAN : Ir. Soehadi Reksowardojo (unsur-45) Dosen ITB; ex. Brig. XVII; sekarang: Mantan Menteri Riset Nasional Prof. Ir.Soehadi Reksowadojo)

c.anggota : Ir. Mas ahmad

Pada tahun 1958 dengan adanya UU Nasionalisasi No. 86/1957 dan PP No. 23/1958, pemerintah mengambil alih Pabrik Kertas Letjes. Sejak tahun 1961 Pabrik Kertas Letjes berubah menjadi Perusahaan Negara Letjes di bawah Badan Pimpinan Umum Industri Kimia. Pada bulan November 1983, dengan Akte Notaris No. 24 nama perusahaan diubah menjadi PT Kertas Leces (Persero).

Begitulah akhir ceritanya:

Mungkin tampak biasa, tapi bagi saya, apa yang dilakukan generasi tua diatas merupakan langkah berani dibandingkan dengan apa yang terjadi pada saat ini dimana pemerintah dengan mudahnya menjual aset-aset berharga kita kepada pihak asing dengan kebijakan privatisasi yang mulai menjamur mulai dari Migas, telekomunikasi dan nanti sebentar lagi kemungkinan besar ialah listrik.

Saat ini wacana nasionalisasi mulai tumbuh dikampus misalnya melalui TUGU RAKYAT atau dalam skuip ITB wacana nasionalisasi berkembang khususnya pada saat diskusi terkait masalah kenaikan BBM pada bulan Mei-Juni yang lalu. Pertanyaan populer yang biasa diajukan ialah “ bisakah kita melakukan Nasionalisasi? ”. Mengacu pada apa yang dilakukan diatas tentunya kita harus Optmis kita bisa melakukan hal tersebut, ketika kita mengkhawatirkan terkait masalah kemampuan teknologi, coba bandingkan kondisi tahun 1957 dengan kondisi tahun 2008 dalam hal penguasaan teknologi tentunya kita tidak kalah dengan generasi tahun 50-an tersebut, ketika kita mengkhawatirkan terkait masalah modal, coba kita bandingkan suasana di tahun 1957 dimana kondisi politik carut-marut dengan silih bergantinya perdana menteri, konfrontasi pembebasan PAPUA (irian Barat di kala itu) dan Indonesia baru merdeka sekitar 12 tahun tentunya saat ini kita lebh baik dibandingkan dengan kondisi saat itu.

Yang berbeda tampaknya hanya satu hal yaitu “Keberanian dan Kecerdasan”, pemimpin kita saat ini belum ada yang seberani Soekarno dan secerdas Hatta, tentunya dalam konteks membangun negara bangsa. Saat ini kita hanya menonton Dagelan Politik, parade para mantan jenderal dengan parpolnya kah, poster muka dimana-mana, mendadak dangdut dimana-mana, anggota DPR ditangkap lah dan apapun itu. Kita tak melihat adanya sebuah gebrakan dari penguasa, yang masih kita lihat masihlah kelanjutan dari kesalahan manajemen masa lalu, bahkan lebih parah lagi, yang kita rasakan saat ini adalah akumulasi dari kesalahan manajemen masa lalu tanpa ada fokus untuk perbaikan. Memang rencana 25 tahun kah, Indonesia 2020 kah dan berbagai rencana tentang Indonesia di masa mendatang mulai disusun di berbagai ranah. Tapi sekali lagi mari kita lihat cukup beranikah kita untuk mandiri.

Memang urusan pembangunan bukan sekedar main ambil alih, tapi masa lalu telah menunjukkan tentang prestasi angkatan tua generasi pengambil-alih, di tempat saya “Kerja Praktek” di PT Kertas Leces dalam jangka waktu 30 tahun setelah pengambil-alihan, kapasitas produksi yang semula hanya 10 ton/hari menjadi 660 ton/hari tentunya saya meyakini selama 30 tahun tersebut dilakukan sebuah proses perencanaan yang baik oleh putra-putri terbaik bangsa ini.

Mari kita mengulangi sejarah yang baik.

Saya kemudian membaca halaman-halaman terakhir di buku tersebut, terdapat kata-kata yang menarik dari bapak Soehadi Reksowardojo (kini sebagai penghormatan atas jasa-jasa beliau, nama beliau digunakan sebagai nama seminar rutin yang diadakan oleh Program Studi Teknik Kimia ITB “Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo” ) Berikut kata-kata beliau:

Misi-Ambil-Alih adalah suatu “Misi Pengabdian” kepada Nusa dan bangsa!

Misi ini telah melahirkan suatu “Generasi Ambil-Alih” yang terdiri dari

teknokrat-teknokrat dan industriawan-industriawan yang profesional

dengan penuh pengabdian pada bangsanya

Semoga generasi ambil-alih ini dapat mewariskan semangat dan didikasi ambil-alih

Kepada generasi penerusnya dan menularkannya kepada Industri-industri lain di Indonesia

-Bandung, Soehadi Reksowardojo-

Sudahkah kita tertular ? …

Muhammad Ridho F.W.

Menteri Pendidikan & keilmuan

Kabinet KM ITB 2008-2009

http:// Bumiridho.wordpress.com

awasridhodatang@yahoo.com / bumiridho@gmail.com

+6285720079380

ini foto saat pabrik diambil alih

Iklan

Responses

  1. nice…sedikit bvanyak mengilhami bgt…
    mirip ma tulisan saya di http://sulistyaadhi.wordpress.com/2008/07/19/menyelamatkan-aset-negara/

    tukeran link ya Dho..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: