Oleh: bumiridho | Agustus 1, 2008

Melihat Indonesia … Refleksi terhadap 63 tahun kemerdekaan dan kemandirian Indonesia

Catatan Pinggiran :
Pengantar menuju Dialekta I terkait kemerdekaan dan kemandirian
yang insyaallah akan diadakan tanggal 22 Agustus 2008 pukul 16.00-18.00
di kampus ITB (tempat menyusul)

Kawan-kawan semua pada dialekta yang akan diselenggarakan pertama kali di tahun ajaran 2008-2009, kementrian P dan K akan kembali mengambil tema terkait kemerdekaan dan kemandirian, mungkin suatu hal yang aneh bahkan bisa jadi suatu hal yang basi ketika kita membicarakan terkait masalah kemerdekaan dan kemandirian, mengingat sudah banyaknya seminar terkait masalah ini sejak tahun awal-awal reformasi yang merupakan awal dari sebagian besar kita menyadari bahwa negeri ini sedang dilanda masalah setelah mengalami kePeDean dimasa orde baru dimana pada awal tahun 90-an kita dengan penuh harap memasuki masa “tinggal landas”.
Tetapi tentunya walaupun telah banyak yang membahas di masa lalu (tahun kemarin kabinet ijul pun mengambil tema kemerdekaan) saat ini masalah telah bertambah dan kesadaran  untuk mengubah pun tampaknya telah menyemangati kita sebagai orang-orang yang memegang peran penting di ranah mahasiswa khususnya untuk tahun ini dan tahun depan 2009, selain itu 2 tahun ini tampaknya merupakan tahun yang cukup krusial dalam pergerakan bangsa ini kedepannya dimana mulai menggeliatnya calon-calon pemimpin muda untuk berkompetisi dengan wajah-wajah lama pemimpin bangsa ini (atau boleh saya sebut tahun 2009-2012 bakal menjadi tahun transisi, alih generasi dan tahun-tahun penentu masih bisakah bangsa ini untuk eksis di ranah global).
Oleh karena itu mari kita berdiskusi. Berikut sebuah tulisan terkait catatan pengantar menuju dialekta (tentunya ini bukan tulisan resmi dari kabinet, tulisan ini diharapkan dapat menjadi pengantar diskusi di Dialekta dan lebih jauh bahan diskusi di milis kabinet KM ITB milik semua).

Melihat Indonesia …
Refleksi terhadap 63 tahun kemerdekaan dan kemandirian Indonesia

Tampaknya kita tidak perlu untuk membicarakan soal arti kemerdekaan secara bahasa di saat ini, karena tentunya kita semua mengetahui kita telah merdeka (“berdaulat”) sejak 63 tahun yang lalu. Hal yang menjadi menarik saat ini ialah ketika kita bertanya seberapa mandirikah kita?
Melihat kenyataan saat ini dimana kita bulan lalu telah keluar dari OPEC yang semakin jelas memperlihatkan bahwa kita telah berubah dari eksportir menjadi importir netto Minyak padahal masih banyak sumber minyak kita di negeri ini (berikut pula potensi pengembangan kilang minyak yang baru), permasalahan listrik yang belum kunjung usai, kebergantungan kita terhadap hutang luar negeri dimana perkiraan yang dihitung dengan cermat oleh BPPN menunjukkan bahwa kewajiban pemerintah untuk membayar obligasi rekap beserta bunganya bervariasi antara 1000 sampai 14.000 trilyun rupiah (Kwik Kian Gie, 2002) dan permasalahan-permasalahan lainnya, tampaknya cukup menjadi bukti bagi kita bahwa bangsa kita belum memilki kemandirian.

Sri-Edi Swasono seorang guru besar ekonomi UI memiliki ungkapan tersendiri terkait kemandirian, beliau mengatakan bahwa kemandirian adalah bagian integral dan makna merdeka itu sendiri. Tidak ada kemerdekan yang genuine tanpa kemandirian. Apabila kemerdekaan memiliki suatu makna, adalah karena kemandirian memberikan martabat bagi bangsa yang memangku kemerdekaan itu. Martabat bangsa merdeka tidak tergantung pada bangsa lain, tidak berada dalam protektorat tidak dalam posisi tersubordnasi. Kemandirian adalah martabat yang diraih sebagai hasil perjuangan berat menuntut onafhankelijkheid dari ketertaklukan, dari humiliasi dan dehumanisasi sosial-politik serta sosial-kultural. Mencapai kemandirian menjadi penegakan misi suci yang kodrati.
Melihat Dependensi Indonesia
Tentunya kita tidak menutup mata terkait saling ketergantungan antar negara karena sayapun meyakini tiap negara dengan negara lainnya saling membutuhkan khususnya negara-negara berkembang seperti Indonesia yang membutuhkan suntikan modal dan teknologi dari negara maju dan semangat serta kerjasama dari negara berkembang lainnya. Apalagi dengan globalisasi yang saat ini sedang mencari bentuknya dimana batas-batas negara mulai meluas sebagaimana dicontohkan Uni Eropa dengan semangat nasionalisme Eropanya, tampaknya harapan akan terwujudnya kesejahteraan dunia (world welfare) semakin mendekati kenyataan

Namun hal yang amat disayangkan ialah proses globalisasi yang terjadi saat ini lebih cenderung kepada proses liberalisasi yang menguntungkan perusahaan-perusahaan multi nasional dan negara-negara maju saja contohnya ialah gagalnya perundingan WTO di Jenewa Swiss yang diakhiri Juli 2008 ini dimana negara-negara maju menolak dikecualikannya produk-produk pertanian dalam perdagangan pasar bebas yang tentunya mengancam ekonomi petani di negara-negara berkembang yang belum mampu bersaing dengan industri pertanian negara maju.

Oleh karena itu suatu hal yang penting bagi kita untuk melalakukan perubahan yang tidak hanya perubahan atau perbaikan mazhab ekonomi yang kita anut saat ini sebagai implikasi paket liberalisasi pada LOI IMF  tetapi juga perubahan fisik yang bersifat realis seperti peningkatan kualitas pendidikan dan mentalitas SDM bangsa kita agar mampu segera menyerap dan menginovasikan teknologi untuk membangun kemandirian kita.

Saat ini dependensi kita yang bersifat negatif ialah sangat bergantungnya kita terhadap hutang luar negeri dan modal asing (hal yang menarik ialah ketika dengan bangganya pemerintah kita mengumumkan bahwa mereka berhasil menaikkan jumlah hutang luar negeri dari negara-negara donor), seorang Guru Besar ekonomi UGM Mubyarto menyimpulkan bahwa penyebab dependensi kita saat ini adalah “ketidaksabaran” dalam membangun ekonomi dan terlalu percaya (over confidence) bahwa “melalui pertumbuhan ekonomi tinggi semuanya akan beres”, meskipun pertumbuhan ekonomi tinggi harus dicapai melalui “banjirnya modal asing” dalam bentuk pinjaman ataupun investasi (FDI). Pemerintah di bawah pengaruh para teknokrat, rupanya tidak khawatir sama sekali akan bahaya yang ditimbulkan utang-utang yang menumpuk (overborrowing). Deregulasi dan liberalisasi dalam aturan keluar-masuknya modal telah dibuat “terlalu bebas” sampai-sampai seorang tokoh teknokrat anggota pemerintah terkejut sendiri ketika ekonomi Indonesia telah menjadi sangat liberal dibandingkan negara-negara berkembang lainnya didunia ini (Radius Prawiro, 1998). Alhasil saat ini kita terjebak dalam hutang dan paket-paket program yang musti kita ikuti sebagai negara penerima yaitu (1) pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam berbagai bentuknya; (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan; (3) pelaksanaan liberalisasi sektor perdagangan; dan (4) pelaksanan privatisasi BUMN (Revrisond Baswir, 2006)

Implikasi luar biasa yang kita rasakan saat ini ialah tidak berkutiknya kita dalam mengeluarkan paket-paket kebijakan yang bersifat menguntungkan Indonesia dan bersifat keIndonesiaan (sesuai UUD pasal 33) misalnya kebijakan UU. Migas No 22 tahun 2001, UU Kelistrikan No 20 tahun 2002 tentang swastanisasi PLN dan UU No.7 tahun 2004 tentang sumber daya air selain itu implikasi yang dirasakan di dunia pendidikan tinggi ialah RUU BHP yang hendak diselenggarakan di seluruh perguruan tinggi khususnya BHMN, dimana negara mulai mencabut subisidinya terhadap dunia pendidikan. 

Dari uraian terkait dependensi khususnya ditinjau dari segi ekonomi (modal) bangsa kita saat ini jauh dari kemandirian dan butuh perjuangan untuk keluar dari situasi ini apalagi jika kita mengulas bagaimana masih tergantungnya kita terhadap teknologi-teknologi asing yang sekali lagi lebih banyak dijadikan alat oleh perusahaan atau negara asing untuk memperoleh keuntungan dari bangsa ini dibanding menyejahterakan bangsa ini.

Membangun kembali landasan 

Dari uraian diatas saya melihat terdapat dua masalah inti yang dapat ditangani oleh satu hal, masalah inti pertama ialah masalah modal sebagaimana diutarakan diatas dimana modal dibutuhkan mulai dari eksplorasi, pengolahan, pengembangan dan distribusi, masalah inti kedua ialah masalah penguasaan teknologi dimana betapa butuhnya kita terhadap inovasi-inovasi keluaran anak negeri untuk kesejahteraan masyarakatnya dan hal yang dapat memperbaiki hal ini ialah keberanian membangun sikap

Sikap yang sekiranya dapat dibangun sebagai berikut:
1. Dalam tataran makroekonomi maka pemerintah khususnya para ekonom pemerintah seharusnya mulai menyadari bahwa sikap neoliberal dalam globalisasi tidak selamanya mampu untuk membawa kesejahteraan bagi bangsa ini. Menurut Stiglitz, kelemahan agenda neoliberal ialah dipaksakannya cara produksi atas dasar kapitalisme dan mekanisme alokasi atas dasar mekanisme pasar dimaana pasar menurut Stiglitz seharusnya hanya menjadi salah satu alat bukannya satu-satunya alat dalam mencapai tujuan ekonomi dimana indikasi yang saat ini terjadi ialah peminggiran kewajiban negara dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat (Revrisond Baswir, 2006). Harapannya pemerintah seharusnya mampu untuk memanajaemeni dan mengeluarkan paket-paket kebijakan yang berorientasi terhadap tercapainya kesejahteraan masyarakat.
2. Dalam tataran makroekonomi pula seharusnya pemerintah kita berani bekerjasama dengan negara-negara berkembang lainnya untuk mendorong negara maju dan perusahaan-perusahaan multinasional untuk merekonstruksi globalisasi dan kebijakan-kebijakan internasional jika memang yang dituju oleh kita semua ialah kesejahteraan dunia. Salah satu contohnya  ialah peran serta negara dalam melindungi sumber-sumber daya pokok utama dan rentan dalam negara tersebut dan peninjauan kembali hutang luar negeri
3. Dalam tataran dalam negeri, tindakan-tindakan konkret sangatlah dibutuhkan untuk memacu efek yang sifatnya global. Dalam mengatasi permasalahan permodalan misalnya dengan melakukan pemberdayaan modal yang berasal dari dana umat sendiri melalui intensifikasi program zakat oleh negara, pengentasan permasalahan korupsi seperti kasus BLBI yang merugikan negara hingga trilyunan rupiah  dan pengembangan usaha-usaha mikro untuk menjamin kestabilan ekonomi rakyat. Dalam mengatasi permasalahan penguasaan teknologi misalnya melalui penggalakan riset-riset tepat guna oleh para mahasiswa

Modal utama kita saat ini yang perlu kita kumpulkan ialah semangat dan niat yang tulus untuk bermanfaat dan menyejahterakan masyarakat dan jika meninjau perkataan seorang cendekia timur tengah, maka kita perlu untuk meningkatkan profesionalitas dan mentalitas kerja terbaik kita di pos kita masing-masing tentunya dengan niat yang tulus, sehingga ketika umat telah memanggil kita, tanpa kita sadari kita telah berada pada barisan terdepan yang menjadi solusi bagi permasalahan umat”

Dan bagi saya umat yang dimaksud saat ini ialah bangsa ini dengan 284 juta pasang mata yang berada didalamnya. Bagaimana dengan anda?
Sekian catatan ini saya buat, semoga bermanfaat
Dengan segala keterbatasan pemikiran,
Muhammad. Ridho Fithri Wikarta
Kementrian Pendidikan dan Keilmuan KM ITB 2008/2009 (PeDanK)
https://bumiridho.wordpress.com
mobile: +6285720079380
email: awasridhodatang@yahoo.com/ bumiridho@gmail.com
untuk referensi silahkan hubungi atau kunjungi blog diatas

 

Sumber referensi:

1. Baswir, Revrisond. “Bahaya Globalisasi Neoliberal Bagi Negara-negara Miskin”. Majalah inovasi 2006

2. Artikel-artikel dalam www.ekonomirakyat.org dengan pengarang:
Drs. Kwik Kian Gie, Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Kepala Bappenas Pidato dalam Seminar “Membangun Kekuatan Nasional untuk Kemandirian Bangsa” dalam rangka memperingati 100 Tahun Bung Hatta, Jakarta, 19 Desember 2002.
Prof. Dr. Sri-Edi Swasono — Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia [i] Disampaikan pada Seminar “Kemandirian Ekonomi Nasional”, diselenggarakan oleh Fraksi Utusan Golongan MPR RI Jakarta, 22 November 2002
Prof. Dr. Mubyarto — Guru Besar Fakultas Ekonomi UGM, Kepala Pusat Studi Ekonomi Pancasila (PUSTEP) UGM. Makalah UNTUK Seminar Peringatan 75 tahun Sumpah Pemuda, Wina-Austria, 25 Oktober 2003
3. “Krisis Energi: Energi Indonesia Dikuasai Asing”, Buletin Al Islam Edisi 28 Tahun XV; Hizbut Tahrir Indonesia

Iklan

Responses

  1. kayaknya udah mau balik nih..??

  2. Belum masih lama Pak tanggal 29 Agustus

  3. http://www.saungcerdas.org


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: