Oleh: bumiridho | September 16, 2008

MALU AKU MENATAP WAJAH SAUDARAKU PARA PETANI

MALU AKU MENATAP WAJAH SAUDARAKU PARA PETANI

(Puisi ini ditulis acara Taufik Ismail, Alumni FKH-IPB, untuk Temu Akbar Alumni IPB 200, Jakarta, 5 Juli 2003 )

Ketika menatap Indonesia di abad 21 ini

Tampaklah olehku ratusan ribu desa,

Jutaan hektar sawah, ladang, perkebunan,

Peternakan, perikanan,

Di pedalaman, di pantai dan lautan,

Terasa olehku denyut irigasi, pergantian cuaca,

Kemarau dan banjir datang dan pergi

Dan tanah airku yang

Digebrak krisis demi krisis, seperti tak habis habis,

Terpincang-pincang dan sempoyongan.

Berjuta wajahmu tampak olehku

Wahai saudaraku petani, dengan istri dan anakmu,

Garis-garis wajahmu di abad 21 ini

Masih serupa dengan garis-garis wajahmu abad yang lalu,

Garis-garis penderitaan berkepanjangan,

Dan aku malu,

Aku malu kepadamu.

Aku malu kepadamu, wahai saudaraku petani di pedesaan.

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani.

Beras yang masuk ke perut kami

Harganya kalian subsidi

Sedangkan pakaian, rumah, dan pendidikan anak kalian

Tak pernah kami orang kota

Kepada kalian petani, ganti memberikan subsidi

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Kalian selama ini kami jadikan objek

Belum lagi jadi subjek

Berpulih-puluh tahun lamanya.

Aku malu.

Hasil cucuran keringat kalian berbulan-bulan

Bulir-bulir indah, kuning keemasan

Dipanen dengan hati-hati penuh kesayangan

Dikumpulkan dan ke dalam karung dimasukkan

Tetapi ketika sampai pada masalah penjualan

Kami orang kota

Yang menentapkan harga

Aku malu mengatakan

Ini adalah suatu bentuk penindasan

Dan aku tertegun menyaksikan

Gabah yang kalian bakar itu

Bau asapnya

Merebak ke seantero bangsa

Demikian siklus pengulangan dan pengulangan

Hidup kami di kota disubsidi oleh kalian petani

Karbohidrat yang setia kalian sediakan

Harganya tak dapat kalian sendiri menentukan

Sedangkan kami orang perkotaan

Bila kami memproduksi sesuatu

Dan bila tentang harga, ada yang mencoba campur tangan

Kami orang kota akan berteriak habis-habisan

Dan mengacungkan tinju, setinggi awan

Kalian seperti bandul yang diayun-ayunkan

Antara swasembada dan tidak swasembada

Antara menghentikan impor beras dengan mengimpor beras

Swasembada tidak swasembada

Menghentikan impor beras mengimpor beras

Bandul yang bingung berayun-ayun

Bandul yang bingung diayun-ayunkan

Petani saudaraku

Aku terpaksa mengaku

Kalian selama ini kami jadikan objek

Belum jadi subjek

Berpuluh-puluh tahun lamanya

Aku malu

Didalam setiap pemilihan umum dilangsungkan

Kepada kalian janji-janji diumpankan

Tapi sekaligus ke arah kepala kalian

Diacungkan pula tinju ancaman

Dulu oleh pemerintah, kini oleh partai politik

Dan kalian hadapi ini

Antara kesabaran dan kemuakan

Menonton dari kejauhan

DPR yang turun, DPR yang naik

Presiden yang turun dan presiden yang naik

Nasib yang beringsut sangat lamban

Dan tak kudengar dari mulut kalian

Sepatah katapun diucapkan

Saudaraku,

Ditengah krisis ini yang seperti tak habis-habis

Di tengah azab demi azab menimpa bangsa

Kami berdoa semoga yang selama ini jadi objek

Dapatlah kiranya berubah menjadi subjek

Jangka waktunya pastilah lama

Tapi semuanya kita pulangkan

Kepada Tuhan

Ya Tuhan

Tolonglah petani kami

Tolonglah bangsa kami

Amin.

Juli 2003


Iklan

Responses

  1. maknanya dalam banget…

  2. Petani akan selalu dibutuhkan meski robot2x (mesin) mulai menggantikan perannya

    Kita harus selalu berterima kasih pada para petani yang menjadi ujung tombak terpenuhinya pasokan pangan primer kita.

  3. subhanallah..luar biasa kang,,

    saya juga jd malu

    klo dipikir-pikir,saya asalnya dr keluarga petani..

  4. siapa yg akan memikirkan petani ya? ketika “institut pertanian bogor” menjadi “institut perbankan bogor”.. hehehe *no offense*

    kata-kata pak mubiar di kuliah inpro cukup membuka mata sekaligus menginspirasi saya.. coba tanam2 padi di pot yuk! 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: