Oleh: bumiridho | September 18, 2008

Notulensi Dialekta : Dari Pabrik Robot ke Laboratorium Peradaban

Dari Pabrik Robot ke Laboratorium Peradaban

Judul diatas merupakan judul yang dibawakan oleh Jaka Arya Sakti, pembicara pertama dialekta pendidikan yang diadakan tanggal 10 september yang lalu yang saya pikir sebegai reviewer tampaknya cukup mewakili nuansa diskusi sore hari itu. Berikut review singkat dari diskusi tersebut. Dimulai dari Jaka, Army kemudian Lizzy.

Mencengangkan memang ketika ada suata negara di kepulauan Asia Pasifik yang bernama Tonga yang bahkan para peserta Dialekta saat itupun kayaknya baru denger ada kerajaan tersebut ternyata memiliki nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang lebih tinggi dari negeri ini. Hal ini menunjukkan bahwa negeri ini masih memiliki tingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan tingkat kesehatan yang rendah, kemudian setelah Jaka membuka dengan tambahan realita-realita lainnya dan kemudian mengerucutkan di ranah pendidikan. Beliau memulai dengan visi tentang pendidikan yang tercantum dalam UU Sisdiknas tahun 2003 dimana secara perundang-undangan telah tercantum tujuan pendidikan yang begitu mulia namun sekali lagi terjadi gap antara realita yang terjadi saat ini karena saat ini “pendidikan kita telah kehilangan makna”.

Beliau memulai dari paradigma tentang pendidikan itu sendiri, dimulai dari sejarah, apa itu sekolah? Ternyata sekolah pada zaman dahulu kala memiliki arti waktu luang, dimana pada zaman dahulu, setelah anak-anak punya mimpi tentang apa yang mau dia kerjakan orang-orang tua mereka menyuruh mereka untuk menemui para cendekia yang ada saat itu tentunya ilmu yang dianggap penting oleh mereka. Sehingga menurut beliau pendidikan selama 12 tahun yang kita alami hingga saat ini minim sekali menanamkan yang namanya “Cita-cita”.

Pembicaraan berlanjut ke Army, army menyampaikan bahwa manajeman pendidikan kita hingga saat ini belum beres dan tidak adanya Political will dari pemerintah,contoh sederhana yang beliau ambil ialah pada saat beliau bertemu dengan Kepala Diknas Kota Bandung yang mengungkapkan saat ini dana pendidikan yang ada di kota Bandung yang jumlahnya ratusan juta, masih bingung mau dialokasikan kemana, dan Army mengungkapkan dari studi yang dilakukan oleh BIGS, jika semua dana yang tidak efektif didiknas kota Bandung diambil (Baca: dikorupsi) maka pendidikan di Kota Bandung bisa gratis sampai ke seragam sekolah.

Diskusi pun ditutup oleh Lizzy yang mengungkapkan tentang peran konkret apa yang dapat dilakukan mahasiswa yang intinya mah, mari kita berbuat dari lingkup yang terkecil. Jika lingkup terkecil yang dekat dengan kita kita sulit mengelola lalu bagaimana dengan lingkup yang lebih besar. Pesan terakhir beliaukurang lebih sebagai berikut: ayo dating ke Rumah Belajar (jadi pengajar boleh apalagi jadi donator).

Sekian catatan singkat dari Dialekta tanggal 10 September 2008 yang lalu.

Iklan

Responses

  1. lebaran kemana aja..??
    nggak maen ke rumah pak Hasyim..??

  2. wah,kedengarannya menarik… sayang ga dateng saat itu…

  3. waduh, baru tau klo pendidikan kita masalahnya begitu kompleks, harus segera dicari jalan keluarnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: