Oleh: bumiridho | Desember 23, 2008

Pendidikan dan Secangkir Kopi

Catatan Kronik

Telah 5 minggu kronik diadakan dan berikut catatan saya tentang kronik tentunya dengan gaya tulisan subyektif saya yang biasa kawan-kawan temui. Catatan ini saya tambah dengan bumbu-bumbu BHP yang ramai dibicarakan saat ini.

Pendidikan dan Secangkir Kopi

Jarang mungkin kita temui saat ini khususnya di dunia mahasiswa dari secangkir kopi dapat timbul gagasan yang dapat membawa kebaikan masyarakat, tampaknya karena saat ini secangkir kopi lebih nikmat jika diminum di Starbucks dibandingkan di sisi jalan dimana kita bias melihat sesungguhnya realita masyarakat secara langsung, di warung sisi jalan dari jarak 10 meter kita sudah mendengar suara penuh harap dari pengamen atau anak-anak jalanan, kemudian di warung sisi jalan kita bisa mendengar para pedagang ngobrol soal mahalnya harga beras harga cabe dan sebagainya berbeda dengan di starbucks dimana yang kita lihat adalah kondisi ideal yang tidak sebagian masyarakat kita mengalaminya.

Mungkin inilah yang menyebabkan mengapa para Anggota DPR kurang mendengar aspirasi masyarakat, karena tempat mereka minum kopi beda dengan sebagian besar masyarakat kita.

Berbicara soal pendidikan, di kronik beserta kawan-kawan dengan dipandu Jaka EL04, kami melakukan badai otak soal masalah pendidikan di Indonesia tuh apa aja, akhirnya kami merumuskan bahwa masalah pendidikan di Indonesia yang banyak itu, dapat dikelompokkan menjadi tiga hal, pertama masalah filosofis, kedua masalah kualitas (seperti masalah kurikulum dan guru) dan ketiga masalah infrastruktur (seperti lingkungan, aksesbilitas, media dan sarana-prasarana).

Pada tulisan ini saya coba untuk membahas bahasan pertama kami dalam kronik soal filosofi pendidikan.

Pendidikan yang kehilangan makna

Tak bisa dipungkiri pendidikan tak bisa lepas dari nilai tempat dimana pendidikan itu diselenggarakan atau sistem dan struktur sosial yang ada saat dimana penyelenggaraan pendidikan itu terjadi sehingga pendidikan sama sekali sulit untuk menjadi proses yang tanpa nilai, murni tanpa tujuan, semata-mata menghidupkan hasrat rasa ingin tahu saja atau yang lebih parah hanya proses alih informasi saja.

Sehingga realita yang terjadi hari ini, pendidikan sekan-akan telah di rancang untuk melanggengkan suatu kondisi tertentu seperti yang ada saat ini di Indonesia, pendidikan dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan menyesuaikan dengan sistem kapitalisme yang ada, bukannya dirancang untuk mengkritisi kapitalisme itu sendiri sehingga ada kritik perbaikan terhadap sistem kapitalisme yang saat ini sedang mengusai dunia. Tentunya dengan harapan agar proses dialektis terhadap sistem yang saat ini menguasai peradaban selalu terjadi dari massa ke massa sehingga kehidupan manusia dapat menjadi lebih baik.

Oh iya, tentang BHP, jika yang dimaksud oleh pemerintah ialah reformasi birokrasi dan otonomi kampus? Maka mengapa kampus dan lembaga akademik (sekolah-sekolah) tidak diberi kebebasan untuk memilih dan merancang sistemnya sendiri? Malah dipaksakan semuanya menjadi BHP, sekali lagi hal ini cerminan bahwa saat ini pendidikan dirancang oleh penguasa untuk melanggengkan atau menyesuaikan dengan sistem kapitalis yang saat ini berkuasa bukan sebagai proses autokritik terhadap sistem kapitalis tersbut untuk menghasilkan transformasi sosial yang lebih baik.

Dalam tataran global, pendidikan yang kehilangan makna boleh dikatakan seperti uraian diatas sedangkan dalam tataran yang langsung bersentuhan dengan kita sebagai peserta didik, pendidikan yang kehilangan makna dapat dilihat dari hasil kemajuan kita hingga saat ini, kita tertinggal dalam hal inovasi dan kreativitas serta tentunya dalam perwujudan cita-cita besar.

Betapa banyak hingga saat ini kita sebagai peserta didik, melewati proses pendidikan tanpa cita-cita dan kesadaran akan peran serta dimasyarakat, pendidikan terasa hambar tanpa semangat dan idealisme. Kita lulus SD untuk masuk SMP, lulus SMP untuk masuk SMA, Lulus SMA untuk masuk PT dan lulus PT untuk bekerja, setelah itu mati. Maka beruntunglah orang yang kemudian bersentuhan dengan idealisme dimasa pendidkannya baik melalu kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler, dan lain-lain setidaknya mereka bersentuhan dengan realitas.

Jika membaca buku manusia pembelajar Andreas Harefa, kawan-kawan tampaknya bisa lebih membayangkan bagaimana pendidikan (khususnya sekolah) telah menjadi lembaga yang mengkerdilkan anak bangsa, rasa ingin tahu tidak diapresiasi apalagi di fasilitasi sehingga pendidikan tidak menghasilkan perbaikan dari ide-ide anak didik, tetapi sekali lagi, hanya menjadi transfer informasi saja.

Hal yang berbeda dapat kita dapati pada film laskar pelangi, dimana sekolah menjadi tempat yang menyenangkan dengan guru yang penuh perjuangan (saat ini pun sebagian besar guru kita masih honorer dengan gaji seadanya) dan anak-anak yang penuh dengan harapan.

Kronik Pendidikan

Kronik (kajian Roetin Pendidikan dan Keilmuan) bidang pendidikan yang telah berjalan, dimana hal yang perlu dimaklumi ketika saya meilhat paradigma yang diambil oleh sebagian besar para peserta diskusi ialah paradigma pendidikan kritis, dimana pendidikan ialah memanusiakan manusia (Freiran) walaupun pada keberjalanan diskusi kami sempat mentok saat timbul pertanyaan ”Bisakah pendidikan bebas nilai?”, setelah berdiskusi panjang akhirnya kami mengambil kesimpulan bahwa pendidikan tidak bisa, tidak bebas nilai (ideologi), kemudian timbul pertanyaan berikutnya ”nilai apakah yang kita ambil?” Akhirnya kami bersepakat bahwa nilai yang akan coba kita bahas disesuaikan dengan nilai-nilai keindonesiaan.

Kemudian kami merumuskan dua definisi, definisi pertama ialah hakikat pendidikan dan definisi kedua ialah tujuan pendidikan. Hakikat pendidikan secara gampang ialah segala sesuatu yang kalau tidak ada maka proses itu tidak disebut sebagai pendidikan sedangkan tujuan pendidikan adalah apa yang mau dihasilkan atau dicapai dari proses tersebut.

Terdapat lima hal dari hasil diskusi kami , yang kami simpulkan sebagai hakekat pendidikan:

  • Pendidikan ialah proses pengembangan hasrat keilmuan dalam rangka mencari kebenaran (pengembangan kesadaran kritis)
  • Pendidikan ialah proses pengembangan potensi
  • Pendidikan ialah proses dalam membimbing peserta didik untuk menemukan misi dan peran kemanusiaannya
  • Pendidikan ialah proses pewarisan nilai-nilai

Jika satu hal dari kelima hal diatas tidak ada maka kami menyimpulkan bahwa proses tersebut bukanlah proses pendidikan yang jelas merupakan kebebasan teman-teman untuk setuju atau tidak setuju dengan lima hal diatas.

Kawan-kawan, Pendidikan setidaknya terdiri dari tiga komponen:

  1. Pengajar
  2. Pelajar atau anak didik
  3. Realitas Dunia

Yang agak hilang dari pendidikan saat ini ialah komponen ketiga yaitu realitas dunia dengan membicarakan realitas dunia, tidak hanya peserta didik yang bertambah wawasannya tetapi juga pengajar pun bertambah wawasannya, karena sifat pendidikan menjadi dialogis dan mencari mana yang paling baik dengan menghargai nilai yang dianut masing-masing.

Secangkir Kopi

Kronik pendidikan memang masih punya banyak PR dan yang paling penting ialah aplikasi, mudah-mudahan hasil dari kronik pendidikan dapat menjadi tambahan yang berharga untuk aktivitas di Rumah Belajar KM ITB dan tentunya dunia pendidikan kita.

Hmm, kembali ke secangkir kopi, (terus terang saya lebih suka air putih daripada kopi J), ketika meminum kopi tentu kita ingin tahu merek kopinya apa? Manis atau enggak? Pake susu atau enggak? Kecuali yang buat si Eneng (so pasti kita minum J)

Bagaimana dengan kehidupan ini? Apakah kita hanya menerima kebijakan tanpa mempertanyakan kembali isinya apa? Di depan orang-orang yang tidak kita kenali bahkan perlu dipertanyakan kapabilitasnya di senayan sana, tampaknya kita harus berani untuk bertanya. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk kesejahteraan masyarakat, 225 juta lebih rakyat Indonesia.

Sampai ketemu di Diskusi kita selanjutnya

Seperti kata Einstein ”Imagination is more Important than Knowledge”

Iklan

Responses

  1. idho, empat atau lima? katanya lima tapi cuma ada empat yang ditulis
    kan yang lima jadi empat dho… he3, naon deuih

  2. hakikat pendidikan adlah memanusiakan manusia
    BHP bukan solusi memjukan pendidikan tinggi di negeri ini.Yang kita butuhkan bukan mengubah bentuk instuisi pendidikan akan tetapai lebih ke arah sistem pendidikan kita
    http://www.zulcenter.wordpress.com

  3. mampir dong…
    biar lama nggak ketemua

  4. Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: