Oleh: bumiridho | Oktober 22, 2009

Demonstrasi*

Cukilan 1 dari buku Mohamad Sobary

Membaca buku yang keluar tahun 1994 rasanya gak jauh berbeda dengan membaca buku zaman sekarang, aromanya masih sama dan semangatnya masih sama entah zaman yang sulit berubah atau kita yang masih sekadar berwacana atau seperti banyak orang bilang sejarah itu berulang.

Ketika saya berdiskusi dengan saudara Oka tentang Demo atau tepatnya Mas Oka ini sendiri yang biasanya memulai diskusi, maka saya yang notabene terpengaruh pola pendidikan (baca tarbiyah) nonpolitik memang biasa mengecewakan teman-teman saya dengan memilih tidak berdemo walaupun hujjah saya tidak semantap Mas Oka.

Membaca artikel yang ditulis Pak Sobary soal demonstrasi membuat saya cukup merasa aneh dan geli, walaupun secara subjektif saya menilai beliau segolongan dengan Cak Nur (Nurcholish Majid) dan Gus Dur dalam memandang agama khususnya Islam. Saya merasa tulisan ini ada baiknya buat di publish dan menjadi bahan dialektika bagi sebagian kita.
Demonstrasi

Demo itu bagian dari kemegahan anak muda sekarang. Ia, bagi sementara orang, adalah sekaligus ukuran keberanian. Anak muda karenanya selalu sukar menyembunyikan kesan gagah tiap kali kepada orang lain berkata: “Tadi saya ikut demo”.

Lebih gagah lagi bila pekerjaan berdemo itu diberi embel-embel seperti pernah dilakukan seorang pemuda kita: “Demi tauhid saya berani berdemo ke istana”

Demi tauhid. Untunglah kita punya kata demo dan tauhid sekaligus. Dan untunglah kita masih bisa menggunakan ukuran tauhid di pentas politik.

Memang belum jelas buat siapa keuntungan bakal dipetik bila kita bicara tauhid di tengah, atau sesudah suatu acara demo berlangsung. Tapi bila tauhid pegangan kita, setidaknya lalu terbayang dalam benak bahwa karena tauhid itu maka kita berbuat apa saja, termasuk berdemo, bukan lantaran hendak pamer keberanian. Juga bukan karena tindakan berani itu lantas mengundang keplok dan decak kekaguman khalayak ramai.

Tauhid, sekalipun sekadar sebagai simbol, tidak bisa dipakai untuk hal-hal seperti itu. Tauhid mengajari bagaimana kita menunduk. Apalagi bila tauhid bukan sekadar simbol, melainkan sudah menyatu dalam darah daging dan jiwa kita, maka segenap tindakan, apa pun wujudnya, tentu kita lakukan demi keikhlasan.

Hanya demi keikhlasan, sebab dibawah panji-panji tauhid tiap pekerjaan menjadi ibadah. Dan ibadah, dimanapun, bukan perkara berani atau takut, bukan juga soal gagah, atau heroik. Ibadah itu perkara biasa, ia anti riuh rendah, emoh kemegahan, dan cuma perlu satu hal: Ikhlas tadi.

Kita bahkan diminta membatasi diri dari berbuat sesuatu bila kita tahu perbuatan itu akan menipu kita ke jurusan rasa bangga dan bukan mengajak menunduk dan tawadhu. Begitu juga bila sorang anggota DPR berani membongkar sebuah kolusi yang memalukan bangsa dan negara, hingga rahasia secarik kertas bisa menggaet satu koma tiga triliun rupiah dari Bank terungkap. Bila tauhid sekali lagi, jadi pedoman, maka dalam pekerjaan itu kita pun layak berkata: “Saya tidak takut kepada siapapun selain kepada Tuhan”.

Demo bagi saya, usaha membangun dialog. Dalam dialog itu harus ditegakkan kesamaan derajat. Tak ada pihak yang lebih tinggi dan lebih berkuasa. Juga tak ada pihak yang lebih direndahkan. Dimanapun posisi kita dan usaha kita sama: menegakkan demokrasi.

Bila benar ada seribu jalan lain menuju Roma, mungkin ada pula seribu jalan menuju demokrasi. Demo, kita tahu merupakan salah satu jalan yang ada. Dan demo sering berwajah ganda.

Para pengemis yang menyergap pintu masjid setelah sahalat usai, juga berarti sebuah demo. Di situ, cuma beberapa menit setelah kita berkata bahwa agama memperhatikan nasib kaum miskin, kontan kita ditagih untuk membuktikan ucapan kita. Demo yang ini tak cuma menohok kita, melainkan juga pemerintah. Dalam pasal UUD kita, disebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara. Dan kini gencar kita bicara pengentasan kemiskinan. para pengemis, kaum miskin yang kleleran itu, tujuannya memang bukan berdemo. Mereka mencari sandang pangan. Tapi sosok kumuh mereka, siapa bilang tak lebih galak dari demo biasa? Mengapa kita cuma diam?

Mereka itu tegas menuntut: “Mana bukti pengentasan kemiskinan? Mana bukti komitmen agamais yang menaruh perhatian pada kaum miskin dan anak yatim? Mana? Ayo, stop omongan kosong itu!”

Bapak aparat, jangan ragu, tangkaplah para pelaku demo yang ini. Beri mereka kerja, sandang dan pangan. Setelah itu saya jamin, demo tak bakal lagi ada.

———————————————————————————————-

Dicutat dengan pemotongan dari buku Moralitas Kaum Pinggiran keluaran Mizan

artikel ini dimuat di Kompas, 20 Maret 1994

Barangsiapa tidak membaca sastra, dia biadab, siapapun dia

-goethe-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: