Oleh: bumiridho | Februari 13, 2012

Kanvas Terbaik …

Berikut merupakan ringkasan dari Kajian Majelis Percikan Iman Tanggal 12 Februari 2012, materi sebelumnya gak ke Catat Euy, berhubung menghadiri pernikahan teman hari ahad yang lalu di Met Land Tambun Bekasi.

Pak Aam lagi bahas mengenai “Syakhsiyah Salimah” bahasa gampangnya kepribadian yang baik yang salim, dimana Syakhsiyah ini dipengaruhi oleh unsur genetika dan lingkungan yang membentuk kepribadian kita hari ini.

Nah di hari minggu 12 Februari ini ada dua point yang dibahas mengenai ciri syaksiyah salimah:

– Mengerjakan yang terbaik,

Ini mah memang umum pisan ya, di bahas dimana-mana, tapi memang ini karakter yang kudu kita bangun, untuk memberikan dan menjadi yang terbaik ditempat dimana kita berada dan ditempatkan, karena saya yakin Allah yang nempatin kita ditempat kita sekarang such as Tempat bekerja, tempat kuliah pasti ada maksudnya (Skenario Besar lebaynya mah), karena yang kajian banyaknya Ibu-ibu maka Pak Aam dengan gaya khasnya nu matak pikaseurieun (lucu) ngasih contoh kalau bikin telor mata sapi teh bikin  yang terbaik yang Buleud (bulat sempurna) biar suami Hepi heu heu.

Dalilnya ini, pasti udah pada harapal

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun “.

Bahasan point ini ditutup dengan analogi kanvas terbaik:

“Hidup itu ibarat kanvas dan kitalah pelukisnya maka lukislah dengan goresan yang terbaik sehingga ketika kita bertemu dengan Tuhan kita bisa tersenyum memperlihatkan Lukisan kita”.

– Ridho dengan ketentuan Allah

Ridho itu penting loh Aseek, point kedua ini nyambung dengan point pertama dimana karena saat kita mengerjakan yang terbaik dan merasa kita telah melakukan yang terbaik di mata kita, ternyata Hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Contoh: ketika si Ibu sudah buat telor mata sapi yang buleud pisan, ternyata si Bapak Cuek weh, tidak banyak komen langsung makan :p.

Saya yakin teman-teman punya contoh yang lebih mantap. Pak Aam mengutip Ibnul Qayyim dalam Al Fawaid.

Setiap menghadapi cobaan hendaklah seseorang tahu bahwa setiap yang Allah takdirkan sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi pastilah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”[HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash.]

Beriman kepada takdir, inilah landasan kebaikan dan akan membuat seseorang semakin ridho dengan setiap cobaan.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.” [Al Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 94, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.]

Pak Aam memaparkan penjelasan dari Ibnu Qayyim: Sesuatu disebut takdir ketika kita sudah bertawakkal dan kita ridho dengan keputusan yang terjadi dan barang siapa yang bertawakkal dan ridho maka dia telah memiliki Ubudiyah yang sempurna.

Nah itu materi hari minggu 12 februari 2012 kemarin dengan tambahan penulisan.

Semoga bermanfaat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: