Oleh: bumiridho | Desember 18, 2012

Relativisme uang

Secara global…

awal2 minggu ini ada salah satu topik di milis muslim3bdg membahas tentang nilai uang dalam kacamata syariah atau saya lebih menangkap lebih kepada bahwa konsep ekonomi dalam syariah itu tidak dibatasi oleh penerapan dinar dan dirham atau memisahkan diri dari sistem moneter yang eksis saat ini, tetapi dalam kacamata syariah konsep yang ada adalah konsep dari sisi manusianya dan keikhlasan/transparansi pada saat proses jual beli terjadi.

Dari sisi manusia kata kang wiska, hal paling penting adalah kapabilitas dan kompetensi kita, yg paling penting adalah diri kita selama kita bisa produktif dan bermanfaat selama itu pula rupiah, dollar dan dinar bisa menghampiri kita.

Sedangkan dari sisi proses ekonomi yg utamanya adalah jual beli maka yg paling penting ialah kedua pihak saling ridho atas proses ini dan tidak ada unsur penipuuan. Saya pernah akad untuk proses KPR dan sebenarnya sama-sama saja hanya untuk BSM cicilan lebih mahal dan flat di bandingkan dengan bank konvensional, bank syariah sebelumnya melakukan estimasi inflasi yang akan terjadi kedepan sedangkan bank koonvensional ya mengikuti kondisi ada saat ini bisa lebih mahal dan bisa lebih murah. Semuanya kembali ke kita mana yang lebih maslahat dan ringan untuk kita.

Jadi jurus paling ampuh menghadapi inflasi sebenarnya bukan dengan investasi emas, tetapi melainkan kapabilitas kita.

Secara individu…

Pada suatu masa kita kenal marx dengan gagasan kelas, dimana yg saya tangkap idenya muncul karena ada ketimpangan golongan yang begitu kaya dan golongan yang miskin.

Mungkin kita sering dengar info seperti kalau di total biaya perawatan anjing atau hewan peliharaan di amerika bisa untuk makan satu keluarga selama satu bulan di afrika atau dunia ketiga.

Atau lebih sederhana, untuk ukuran di jakarta, kita sekali makan 30 ribu mungkin biasa, tapi kalau di kampung itu bisa untuk 2 hari satu keluarga, betapa relatifnya nilai uang tergantung dimana kita berada.

Sekali lagi memang hidup yang bersyukur dengan kapabilitas perlu bwt kita kembangkan terus, dan memang yang menjadi tantangan adalah kemampuan kita berbagi.

Jujur saya bisa lulus kuliah karena ada saudara yang mau berbagi sebagian rejekinya utk membayarkan biaya saya masuk semester pertama dan biaya keluar untuk semester keenam dan alhamdulilllah semester lainnya bisa dapat juga dari beasiswa yg hasil dari berbagi orang lain juga.

Sekarang tantangan kita meningkatkan kemampuan individu kita, meningkatkan rejeki dan berbagi dengans sesama utk sama2 maju.

Sekali lagi tulisan yang judul dan isinya tidak nyambung.

Allahumma inni as’aluka ilman nafi’an, wa rizqoon thayyiban, wa ‘amala mutaqabbalan.

Salam
Karawang 181212

Iklan

Responses

  1. saya siy bilang, uang itu cuma angka..

    • iya, klo minat lanjut, baru di-open hitung2annya šŸ˜€


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: